9 TAFSIR SURAT AL-MAIDAH AYAT 51 MENURUT PARA MUFASSIR

9 Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Para Mufassir – Surat Al-Maidah, khususnya ayat 51 belakangan ini sedang menjadi perbincangan yang cukup ramai di tengah masyarakat Indonesia. Hampir semua orang dalam lapisan masyarakat merujuk kepada ayat ini pada saat membahas masalah kepemimpinan di dalam Islam.

Peluang usaha jamur tiram

Banyak tafsir yang di tulis oleh para ulama salaf yang bisa ditelaah kembali oleh kaum muslimin untuk melihat bagaimana komentar para ulama ahli tafsir terkait Surat Al-Maidah ayat 51 ini. Diantaranya berikut ini adalah 9 tafsir surat Al-Maidah ayat 51 menurut para mufassir atau para ulama ahli tafsir.

9 Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Para Mufassir

Image: republika.co.id

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Ibnu Abbas

Ibnu Abbas termasuk sahabat yang dikenal dalam kepiawaiannya menafsir Al-Qur’an. Pujian dan sanjungan terhadapnya sudah sangat banyak dan melimpah. Ia adalah sahabat yang pernah didoakan Nabi SAW agar diberi kemampuan dalam memahami Al-Qur’an, hikmah, dan agama. Tak ayal bila Ibnu Umar mengatakan, “Ibnu Abbas adalah umat Nabi Muhammad SAW yang paling tahu tentang apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW (Al-Qur’an).”

Atas dasar itu pula, Husain Ad-Dzahabi dalam bukunya Tafsir wal Mufassirun memosisikan Ibnu Abbas RA sebagai mufassir senior dari kalangan sahabat.

Kendati dikenal sebagai ahli tafsir, Ibnu Abbas tidak seperti ahli tafsir belakangan yang menuliskan hasil pemahamannya terhadap Al-Qur’an. Ibnu Abbas hidup pada masa penulisan kitab belum menjadi tren utama. Mereka lebih banyak menyebarkan pengetahuannya lisan atau tradisi oral. Sebab itu, untuk menemukan penafsiran Ibnu Abbas kita harus merujuk kepada orang-orang yang pernah mendengar langsung dari beliau.

Di antara tokoh yang mencatat penafsiran Ibnu Abbas adalah Ali bin Abi Thalhah. Riwayat dari Ali bin Abu Thalhah ini disebut oleh Husain Adz-Dzahabi sebagai riwayat yang paling bagus (ajwadul thuruq ‘anhu). Terkait keberadaan catatan ini, Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Di Mesir ada kumpulan riwayat tafsir dari Ali bin Abi Thalhah, banyak orang ke sana untuk mencari kitab tersebut.” Saat ini, catatan Ali bin Abu Thalhah tersebut sudah dibukukan dan diberi nama Tafsir Ibnu ‘Abbas.

Mayoritas penafsiran Ibnu Abbas sudah disebutkan dalam kitab ini meskipun ia tidak menafsirkan Al-Qur’an secara utuh, rinci, lengkap, seperti kitab tafsir belakangan. Terkait surah Al-Maidah ayat 51, Ibnu Abbas tidak membicarakan ayat ini dalam konteks kepemimpinan atau pelarangan pemimpin non-Muslim, tetapi mendudukkan ayat ini dalam konteks penyembelihan dan ketidakbolehan mengikuti agama orang lain. Berikut kutipan tafsirnya:

يا أيها الذين أمنوا لاتتخذوا اليهود والنصرى أولياء بعضهم أولياء بعض ومن يتولهم منكم فإنه منهم.. قال: إنها في الذبائح، من دخل في دين قوم فهو منهم

Artinya: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai auliya’: Sebagian mereka adalah auliya’ bagi sebagian lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya’, maka sungguh orang itu termasuk golongan mereka…” Ibnu Abbas berkata, “(Ayat) Ini dalam masalah penyembelihan. Barangsiapa masuk ke dalam agama suatu kelompok, maka dia bagian dari mereka”

Ibnu Abbas tidak menafsirkan ayat ini secara panjang lebar. Ia hanya menyebut ayat ini terkait penyembelihan dan bagi siapa yang mengikuti agama lain, maka dia termasuk bagian dari mereka. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Tafsir Jamal

Pada kesempatan ini kutipan berikut tidak diambil dari Tafsir Jalalain, tetapi dari Tafsir Al-Futuhatul Ilahiyah bi Taudhihi Tafsiril Jalalain lid Daqa’iqil Khafiyyah, atau lebih dikenal dengan sebutan Tafsir Jamal.

Al-Futuhatul Ilahiyah adalah salah satu tafsir yang menguraikan mensyarahkan Tafsir Jalalain yang singkat itu. Selain mengutip Tafsir Khazin, penulis Tafsir Jamal mengutip tafsir yang ditulis Abu Sa‘ud sebagai berikut.

قوله يأيها الذين آمنوا، خطاب يعُمّ حكمُه كافةَ المؤمنين من المخلصين وغيرهم. وقوله آمنوا أي ولو ظاهرا. وإن كان سبب نزولها في غير المخلصين فقط وهم المنافقون، كعبد الله بن أبى واضرابه الذين كانوا يسارعون فى موالاة اليهود ونصارى نجران، وكانوا يعتذرون الى المؤمنين بأنهم لا يؤمنون أن تصيبهم صروف الزمان كما قال تعالى يقولون نخشى

Artinya, “’Hai orang-orang beriman’ hukum yang dituju ayat ini menyasar kepada semua orang beriman yang ikhlas maupun yang tidak ikhlas. ‘Berimanlah kamu’ meskipun hanya secara lahir, tidak sampai ke batin. Ayat ini menyasar semua orang beriman meskipun sebab turunnya ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak ikhlas. Mereka adalah orang munafiq seperti Abdullah bin Ubai dan pengikutnya. Mereka inilah yang segera menjadikan orang Yahudi dan Nasrani Najran sebagai pelindung. Mereka sebelumnya menyatakan ‘maaf’ kepada orang-orang beriman bahwa mereka akan melepaskan keimanannya bila peralihan zaman menempatkan orang beriman dalam posisi kalah perang seperti perkataan mereka yang diabadikan dalam Al-Quran, ‘Kami khawatir…’”

Demikian dikutip dari Tafsir Jamal karya Syekh Sulaiman bin Umar Al-Jamal, Darul Fikr, 2003 M/1423 H, Juz 2, halaman 251.

Dari keterangan di atas, Al-Quran mengingatkan bahwa loyalitas ganda sangat berbahaya terutama dalam kondisi konflik. Al-Quran jelas mengecam kelompok munafik di Madinah mencari perlindungan kepada Yahudi dan Nasrani. Mereka yang secara lisan mengaku beriman membangun relasi dengan Yahudi dan Nasrani sebagai alternatif tempat perlindungan ketika zaman tidak berpihak kepada umat Islam. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Imam Ath-Thabari

Perkembangan kajian tafsir tidak dapat dilepaskan dari nama at-Thabari. Beliau adalah seorang mufassir andal, senior, dan karyanya sampai saat ini masih dijadikan rujukan oleh banyak orang terkait penafsiran Al-Qur’an. Di antara karya monumental at-Thabari adalah  Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyil Qur’an.

Kitab ini berisi tafsir al-Qur’an 30 juz, sangat tebal dan berjilid-jilid, serta memuat banyak riwayat terkait konteks dan makna sebuah ayat. Dalam kitab ini, at-Thabari juga tidak lupa menjelaskan tafsir surat al-Maidah 51. Ia menjelaskannya panjang lebar dan mendiskusikan beberapa riwayat yang berkaitan dengan konteks penurunan ayat ini.

Setelah mengutip kisah perdebatan ‘Ubadah bin Shamit dan ‘Abdullah bin Ubay, kisah Abu Lubabah, dan kisah dua orang muslim yang pindah agama lantaran takut ditimpa kesusahan, at-Thabari mengatakan:

والصواب من القول في ذلك عندنا أن يقال: إن الله تعالى ذكره نهى المؤمنين جميعا أن يتخذوا اليهود والنصارى أنصارا وحلفاء على أهل الإيمان بالله ورسوله، وأخبر أنه من اتخذهم نصيرا وحليفا ووليا من دون الله ورسوله والمؤمنين فإنه منهم في التحزب على الله وعلى رسوله والمؤمنين، وأن الله ورسوله منه بريئان

“Pendapat yang benar menurut kami ialah bahwa Allah SWT melarang seluruh orang beriman menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai penolong, sekutu, dan teman koalisi (setia) yang dapat merugikan orang mukmin lainnya. Allah SWT mengabarkan bagi siapa pun  yang menjadikan mereka sebagai penolong, sekutu, dan teman setia, maka dia menjadi bagian dan berpihak pada mereka dalam hal melawan Allah SWT, Rasulullah SAW, dan orang mukmin. Dengan demikian, Allah dan Rasulullah tidak bertanggung jawab atas mereka.

Menurut at-Thabari, perbedaan ulama tentang asbabul nuzul surat al-maidah 51 ini tidak terlalu substansial dan kontradiktif: baik ditujukan untuk Ubadah bin Shamit dan ‘Abdullah bin Ubay, Abu Lubabah, atau  dua orang muslim yang pindah agama lantaran takut susah, intinya sama saja. Karena yang menjadi acuan dalam ayat ini adalah keumuman maknanya.

Sebenarnya ketiga kisah di atas masih dipermasalahkan otentitasnya, namun yang pasti menurut at-Thabari, ayat ini ditujukan kepada orang munafik. Hal ini dapat dipahami dengan melihat ayat setelahnya. At-Thabari menuliskan:

غير أنه لا شك أن الآية نزلت في منافق كان يوالي يهود أو نصارى، خوفا على نفسه من دوائر الدهر، لأن الآية التى بعد هذه تدل على ذلك. وذلك قوله: “فترى الذين في قولبهم مرض يسارعون فيهم يقولون نخشى أن تصيبنا دائرة:

“Tidak diragukan lagi bahwa ayat ini diturunkan dalam konteks orang munafik, yaitu mereka yang berkoalisi dengan Yahudi dan Nasrani karena takut ditimpa musibah dan kesusahan. Kesimpulan ini didasarkan pada ayat setelahnya, ‘Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapatkan bencana’ (QS: al-Maidah ayat 52).”

Pada bagian akhir penafsiran surat ini, at-Thabari menjelaskan:

أن الله لا يوفق من وضع الولاية في غير موضعها فوالي اليهود والنصاري-مع عداوتهم الله ورسوله والمؤمنين- على المؤمنين، وكان لهم ظهيرا ونصيرا، لأن من تولاهم فهو لله ولرسوله حرب

“Sesungguhnya Allah tidak memberkati orang yang berkoalisi (minta tolong) kepada orang yang tidak tepat. Seperti menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai sekutu dan penolong. Padahal mereka memusuhi Allah, Rasul, dan orang mukmin. Siapapun yang berkoalisi dengan mereka berati ia memerangi Allah, Rasul, dan orang mukmin.”

Dari pemaparan di atas dapat dipahami bahwa ayat ini berkaitan dengan orang munafik. Mereka hanya memanfaatkan Islam hanya untuk kepentingan sesaat. Giliran umat Islam lemah, mereka takut dihancurkan oleh orang kafir dan akhirnya berpihak ada orang kafir yang memerangi umat Islam. Sebagian riwayat menyebut, mereka tidak sekedar berpihak, tetapi juga mengikuti agama mereka.

Dengan demikian, dalam konteks ini dilarang keras menjadikan orang kafir sebagai teman dekat, pelindung, ataupun penolong, karena hal itu dapat menyakiti perasaan orang Islam, bahkan menghancurkan orang Islam secara bertahap. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menulis banyak karya tasawuf dan fiqih. Tetapi belakangan ini sejumlah filolog menemukan naskah yang memuat manuskrip berisi teks tafsir Al-Quran yang kemudian dinisbahkan kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Tafsirul Jailani ini dicetak yang kemudian beredar ke tangan kita sekarang berjumlah empat jilid. Tafsirul Jailani terbilang lengkap. Syekh Abdul Qadir menafsirkan Al-Quran ayat per ayat sehingga hampir tidak satupun ayat luput dari penafsiran.

Pada kesempatan berikut ini kami kutipkan Tafsirul Jailani perihal Surat Al-Maidah ayat 51. Kita akan melihat pandangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sebagai berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أي مقتضى إيمانكم أن لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ أي توالونهم وتصاحبونهم مثل موالاة المؤمنين ولا تعتمدوا ولاتثقوا بودادتهم ومودتهم إذ هم بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ أي متظاهرون متعاونون ينتهزون الفرصة لمقتكم وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ أي ويعتمد عليهم مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ أي من جملتهم وعدادهم عند الله إِنَّ اللَّهَ أي المطلع لضمائر عباده لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ أي المجاوزين عن مقتضى أوامر الله، المرتكبين لمناهيه، فكيف لا يكون المتولون معهم من زمرتهم.

Artinya, “(Hai orang-orang beriman) seseuai keimananmu. (Jangan kalian jadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung) kalian menjadikan mereka sebagai pelindung dan bersahabat dengan mereka sebagaimana kalian menjadikan orang beriman sebagai pelindung. Jangan kalian bersandar dan memercayakan cinta dan persahabatan mereka karena mereka (sebagian mereka terhadap sebagian lainnya menjadi pelindung) mereka saling membahu dan membantu. Mereka menunggu kesempatan karena benci mereka terhadapmu. (Siapa menjadikan mereka pelindung) bersandar kepada mereka (di antara kamu, maka sesungguhnya ia termasuk dari mereka), termasuk jumlah sebagian besar mereka dan salah satu dari mereka di sisi Allah. (Sungguh Allah) yang melihat hati hamba-Nya (tidak memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya) kaum yang melewati batas dari tuntutan perintah Allah, dan melakukan apa yang dilarang Allah. Bagaimana orang yang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai penolong tidak dianggap sebagai bagian dari mereka?”

Kutipan di atas diambil dari Tafsirul Jailani karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, terbitan At-Tamam, Beirut, Libanon, juz I, halaman 512-513.

Pada kesempatan ini Syekh Abdul Qadir tidak mengutip riwayat hadits atau atsar yang berkaitan dengan ayat ini dalam tafsirnya. Ia hanya memberikan keterangan tambahan sedikit atas kata dan kalimat pada ayat ini. Wallahu a‘lam.

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Al-Qurthubi

Tafsir Al-Qurthubi atau Al-Jami’ li Ahkamil Quran merupakan salah satu buku tafsir rujukan umat Islam. Muhammad Al-Qurthubi melakukan pendekatan hukum dalam tafsirnya. Kita akan melihat bagaimana pandangan ulama Spanyol abad 7 H ini terkait Surat Al-Maidah ayat 51 sebagai berikut.

فيه مسألتان: الأولى- قوله تعالى: {الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ} مفعولان لتتخذوا؛ وهذا يدل على قطع الموالاة شرعا، وقد مضى في {آل عمران} بيان ذلك. ثم قيل: المراد به المنافقون؛ المعنى يا أيها الذين آمنوا بظاهرهم، وكانوا يوالون المشركين ويخبرونهم بأسرار المسلمين. وقيل: نزلت في أبي لبابة، عن عكرمة. قال السدي: نزلت في قصة يوم أحد حين خاف المسلمون حتى هم قوم منهم أن يوالوا اليهود والنصارى. وقيل: نزلت في عبادة بن الصامت وعبدالله بن أبي بن سلول؛ فتبرأ عبادة رضي الله عنه من موالاة اليهود، وتمسك بها ابن أبي وقال: إني أخاف أن تدور الدوائر. {بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} مبتدأ وخبره؛ وهو يدل على إثبات الشرع الموالاة فيما بينهم حتى يتوارث اليهود والنصارى بعضهم من بعض.

الثانية- قوله تعالى: {وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ} أي يعضدهم على المسلمين {فَإِنَّهُ مِنْهُمْ} بين تعالى أن حكمه كحكمهم؛ وهو يمنع إثبات الميراث للمسلم من المرتد، وكان الذي تولاهم ابن أبي ثم هذا الحكم باق إلى يوم القيامة في قطع المولاة؛ وقد قال تعالى: {وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ} وقال تعالى في {آل عمران}: {لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ} وقال تعالى: {لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ} وقد مضى القول فيه. وقيل: إن معنى {بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} أي في النصر {وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ} شرط وجوابه؛ أي أنه قد خالف الله تعالى ورسوله كما خالفوا، ووجبت معاداته كما وجبت معاداتهم، ووجبت له النار كما وجبت لهم؛ فصار منهم أي من أصحابهم.

Artinya, “Di sini terdapat dua masalah. Pertama, ‘al-yahûda wan nashârâ’ adalah maf’ul dari ‘tattakhidzû’. Hal ini menunjukkan jelas masalah ‘perwalian’ secara syara’ sebagaimana dijelaskan dalam Surat Ali Imran. Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang dituju oleh ayat ini adalah kelompok munafik dengan kata lain, ‘Hai orang-orang yang beriman hanya secara lahiriah’. Kelompok munafik menjadikan kelompok musyrikin sebagai pelindung. Kelompok munafik membocorkan rahasia umat Islam kepada mereka. Sebagian ulama mengatakan, ayat ini turun terkait Abu Lubabah yang diriwayatkan dari Ikrimah.

As-Suddi mengatakan, ayat ini turun mengisahkan perang Uhud di mana umat Islam diselimuti kekhawatiran hingga sekelompok orang berniat menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung. Ada juga ulama yang berpendapat, ayat ini turun perihal sikap sahabat Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubai bin Salul. Ubadah berlepas diri dari perlindungan Yahudi. Sementara Abdullah bin Ubai berpegang pada perlindungan Yahudi. ‘Aku khawatir kekuasaan berganti,’ kata Abdullah bin Ubai. ‘Sebagian mereka pelindung sebagian lainnya’, mubtada dan khabar. Ini menunjukkan penetapan syara’ atas perlindungan sesama mereka bahkan satu sama lain dari Yahudi dan Nasrani dapat menerima waris.

Kedua, ‘siapa saja di antara kalian menjadikan mereka sebagai pelindung’ menjadikan mereka sebagai pembela umat Islam, (maka ia termasuk dari mereka). Artinya, status warisnya sama seperti status waris mereka, yakni terputusnya hak waris seorang Muslim dari orang yang murtad. Orang yang mengangkat mereka sebagai pelindung adalah Abdullah bin Ubai. Hukum waris ini tetap berlaku sampai hari Kiamat karena masalah perlindungan ini.

Allah berfirman, ‘Jangan kalian bersandar kepada orang yang berlaku aniaya karena niscaya api neraka akan membakar kalian.’ Di dalam Surat Ali Imran, Allah mengatakan, ‘Janganlah orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pelindung.’ ‘Jangan kalian ambil selain orang kalian sebagai orang dekat.’ Penjelasan ayat ini sudah lewat. Ada ulama berpendapat perihal ‘Sebagian mereka pelindung sebagian lainnya’ sebagai pertolongan. ‘Siapa saja di antara kalian menjadikan mereka sebagai pelindung’ merupakan syarat (anak kalimat). Sedangkan jawab-nya (induk kalimat) adalah ‘ia telah menyalahi Allah dan Rasul-Nya sebagaimana mereka berlaku demikian. Ia mesti dimusuhi sebagaimana mereka. Ia mesti masuk neraka sebagaimana mereka. ia bagian dari mereka.’”

Kutipan di atas merupakan karya Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Quran, Mu’assasatur Risalah, Beirut, Libanon, 1427 H/ 2006 M, juz 8, halaman 47-48. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Al-Baghawi

Terkait Surah Al-Maidah 51, penulis kitab Ma’alimul Tanzil fi Tafsiril Qur’an, Al-Baghawi (wafat 510 H), menyebutkan beberapa riwayat yang berkaitan dengan penyebab turun ayat ini. Riwayat pertama mengisahkan bahwa ayat ini diturunkan pada saat ‘Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay bin Salul tengah bertengkar. Mereka berdebat terkait siapa yang pantas dijadikan tempat berlindung. Pertengkaran mereka itu akhirnya terdengar oleh Nabi SAW. Berikut petikan kisahnya:

Kerajinan Tangan Kertas Koran

نزلت في عبادة بن الصامت وعبد الله بن أبي ابن سلول، وذلك أنهما أختصما، فقال عبادة: إن لي أولياء من اليهود كثير عددهم شديدة شوكتهم، وإني أبرأ إلى الله وإلى رسوله من ولايتهم وولاية اليهود، ولا مولى لي إلا الله ورسوله، فقال عبد الله: لكني لا أبرأ من ولاية اليهود لأني أخاف الدوائر ولا بد لي منهم، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: يا أبا الحباب ما نفست به من ولاية اليهود على عبادة بن الصامت فهو لك دونه. قال: إذا أقبل، فأنزل الله تعالى بهذ الآية

Artinya, “Ayat ini diturunkan pada saat ‘Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay bin Salul bertengkar: ‘Ubadah berkata, ‘Saya memiliki banyak ‘awliya’ (teman/sekutu/pelindung) Yahudi, jumlah mereka banyak, dan pengaruhnya besar. Tapi saya melepaskan diri dari mereka dan mengikuti Allah SWT dan Rasul-Nya. Tiada pelindung bagi saya, kecuali Allah dan Rasul-Nya’.

Abdullah bin Ubay berkata, ‘Saya lebih memilih berlindung kepada Yahudi karena saya takut ditimpa musibah. Untuk mengindarinya saya harus bergabung dengan mereka’. Nabi SAW berkata, ‘Wahai Abul Hubab, keinginanmu tetap dalam perlindungan (kekuasaan) Yahudi adalah pilihanmu, tidak baginya’. Ia menjawab, ‘Baik, saya menerimanya’. Karenanya, turunlah ayat ini.”

Riwayat kedua, As-Suddi mengatakan, ayat ini diturunkan ketika terjadi serangan yang sangat kuat terhadap suatu kelompok pada perang Uhud. Mereka takut bila orang kafir menyiksa mereka. Berkata salah seorang Muslim, “Saya bergabung dengan orang Yahudi dan menjadikan mereka sebagai tempat berlindung, karena saya khawatir orang-orang Yahudi menyiksa saya”. Sementara seorang lagi berkata, “Saya bergabung dengan orang Nasrani dari Syam dan menjadikannya pelindung.” Maka turunlah ayat ini sebagai larangan terhadap mereka berdua. Ini kutipan redaksi Arabnya:

قال السدي: لما كانت وقعة أحد اشتدت على طائفة من الناس وتخوفوا أن يدل عليهم الكفار. فقال رجل من المسلمين: أنا ألحق بفلان اليهودي وآخذ منه أمانا إني أخاف أن يدال علينا اليهود، وقال رجل آخر: أما أنا فألحق النصراني من أهل الشام وآخذ منه أمانا، فأنزل الله تعالى هذه الآية ينهماهما

Selain dua riwayat di atas, terdapat beberapa riwayat lain yang berkaitan dengan konteks turunnya surah Al-Maidah 51. Tentu semua riwayat itu tidak mungkin disebutkan di sini semuanya. Dari dua riwayat tersebut dapat diperhatikan bahwa ayat ini turun pada saat konflik umat Islam dengan non-Muslim sedang memanas.

Dalam situasi konflik, berpihak pada kelompok musuh, pada waktu itu orang kafir, dianggap sebagai sebuah pengkhianatan dan merusak persatuan umat Islam. Bahkan orang yang bersekutu dengan musuh dinilai sudah menjadi bagian dari mereka. Karenanya, ketika ada orang yang meminta perlindungan atau berkoalisi dengan orang Yahudi dan Nasrani, ayat ini diturunkan sebagai larangan. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Wahbah Az-Zuhaily

Syekh Wahbah Az-Zuhayli sudah tidak asing di kalangan santri mulai era 1980-1990an. Karya-karyanya terutama di bidang fikih dan ushul fikih mulai dipelajari para santri di era saat itu. Tidak sedikit buah pikirannya menjadi rujukan keagamaan teurtama di kedua bidang tersebut.

Di samping menulis banyak karya di bidang fikih dan ushul fikih, Syekh Wahbah Az-Zuhayli juga menulis tafsir. Kami mengutip tafsir karya Syekh Wahbah Az-Zuhayli berikut ini terkait Surat Al-Maidah ayat 51 yang belakangan kerap dibicarakan banyak orang di Indonesia.

يا أيها المؤمنون لا تتخذوا اليهود والنصارى أصدقاء تطلعونهم على أسراركم فإنهم أعداء لكم، بعضهم أنصار بعض تخوفا من قوتكم واتحادكم، ومن يتخذهم أنصارا فقد صار منهم لرضاه بموالاة أعداء الله. إن الله لا يوفق الظالمين لأنفسهم بموالاتهم أعداءه. نزلت في عبد الله بن أبي حينما قال: إني رجل أخاف الدوائر ولا أبرأ من ولاية اليهود، وأما عبادة بن الصامت فقد تبرأ من ولاية اليهود، وآوى إلى الله ورسوله فنزلت فيهما الآية

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jangan kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai teman dekat yang Kalian perlihatkan rahasia kalian kepada mereka karena mereka adalah musuhmu. Sebagian mereka terhadap sebagian lain saling membantu karena khawatir kekuatan dan persatuanmu. Siapa saja di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai penolong, maka ia bagian dari mereka karena ia merelakannya dengan menjadikan musuh Allah sebagai penolong. Allah tidak memberikan taufik kepada orang yang menganiaya diri sendiri dengan menjadikan musuh-Nya sebagai penolong. Ayat ini turun ketika Abdullah bin Ubay mengatakan, ‘Aku takut zaman berganti. Aku tidak melepaskan diri dari persahabatan dengan Yahudi.’ Sementara Ubadah bin Shamit menyatakan berlepas diri dari persahabatan dengan Yahudi dan berlindung kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu ayat ini turun perihal keduanya.”

Catatan ini kami kutip dari At-Tafsirul Wajiz ala Hamisyil Quranil Azhim, Darul Fikr, Damaskus, Suriah, halaman 117. Catatan tafsir di atas menegaskan ketergantungan dan kepasrahan orang beriman hanya kepada Allah dan rasul-Nya dalam situasi stabil maupun peralihan zaman.

Di samping menjelaskan Surat Al-Maidah ayat 51 dengan parafrase, Syekh Wahbah juga menyebutkan asbabun nuzul ayat ini di akhir ulasannya. Karya Syekh Wahbah ini dapat memperkaya pemahaman kita terhadap sebuah ayat Al-Quran. Wallahu a‘lam.

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Syekh Ibnu Ajibah

Syekh Ibnu Ajibah adalah pemuka Tarekat Syadziliyah di abad 18 M. ia cukup produktif dalam menulis karya. Ia menulis pelbaga disiplin keagamaan. Iqazhul Himam, salah satu karya Syekh Ibnu Ajibah, adalah syarah kitab Al-Hikam yang sering dibaca kalangan santri di Indonesia.

Syekh Ibnu Ajibah juga menulis tafsir Al-Quran yang akan kami kutip berikut ini terutama perihal Surat Al-Maidah ayat 51. Ia dikenal sebagai ulama yang sangat zuhud. Makamnya terletak di wilayah Gimmiche, sekira 30 km arah timur dari  Kota Tanger, Maroko.

يقول الحقّ جلّ جلاله :(يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء) تنتصرون بهم ، أو تعاشرونهم معاشرة الأحباب ، أو تتوددون إليهم ، وأما معاملتهم من غير مودة فلا بأس ، ثم علل النهي عن موالاتهم فقال : هم (بعضهم أولياء بعض) أي : لأنهم متفقون على خلافكم ، يوالي بعضهم بعضًا لا تحادهم في الدين ، وإجماعهم على مضادتكم ، (ومن يتولهم منكم فإنه منهم) أي : من والاهم منكم فإنه من جملتهم

Artinya, “(Hai orang-orang beriman, jangan kalian jadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung) kalian mencari pembelaan mereka, bergaul dengan mereka terlalu dekat, dan menaruh hati kepada mereka. Tetapi bergaul secara wajar dengan mereka tanpa berlebihan tidak masalah. Allah memberikan penjelasan kenapa bergaul terlalu dekat dengan mereka dilarang, karena mereka (sebagian mereka terhadap sebagian lainnya menjadi pelindung) mereka sepakat melawan kalian. Mereka saling membantu karena mereka satu keyakinan dalam agama, dan mereka sepakat melawan kalian. (Siapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai pelindung, maka sesungguhnya ia termasuk dari mereka), ia termasuk jumlah sebagian besar mereka dan salah satu dari mereka.”

Redaksi (ta’bir) di atas dikutip dari Al-Bahrul Madid fi Tafsiril Quranil Majid, juz II, halaman 76 karya Syekh Ibnu Ajibah. Sufi besar ini mengingatkan kita untuk menjaga jarak dalam bergaul dengan kelompok lain. Tetapi Syekh Ibnu Ajibah mempersilakan umat Islam bergaul dengan wajar dengan mereka.

Pandangan ulama besar abad 18 M ini dapat memperkaya kita akan pemahaman terhadap Surat Al-Maidah ayat 51. Wallahu a‘lam.

Memahami Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Dalam Konteks Usul Fiqh & konteks Fiqh Siyasah Oleh Prof. Nadirsyah Hosen

Belakangan ini beredar kutipan kisah Sayyidina Umar bin Khattab, Khalifah kedua, dengan sahabat Nabi Abu Musa al-Asy’ari. Dialog yang dinukil dari Tafsir Ibn Katsir ketika menjelaskan QS al-Maidah ayat 51 dipakai sebagian pihak untuk menyerang kandidat tertentu dalam Pilkada DKI. Bagaimana sebenarnya kisah tersebut? Mari kita pelajari bersama, dan untuk sementara kita niatkan untuk mengaji saja, bukan membahas Pilkada. Ini biar kajian kita menjadi obyektif.

Kisahnya sendiri dikutip oleh sejumlah kitab Tafsir, dengan perbedaan redaksi, perbedaan riwayat dan perbedaan konteks ayat ketika kisah ini diceritakan ulang. Begitu juga kita harus memahami pernyataan Khalifah Umar baik dalam konteks Usul al-Fiqh maupun dalam konteks Fiqh Siyasah. Mari kita bahas satu per satu.

Memahami background kisah

Pemahaman akan konteks akan membantu kita memahami teks. Pada masa Khalifah Umar kekuasaan Islam mulai meluas merambah area di luar Hijaz. Abu Musa al-Asy’ari diangkat menjadi Gubernur di Bashrah, Iraq. Khalifah Umar meminta laporan berkala kepada para Gubernurnya. Maka diriwayatkan Abu Musa mengangkat seorang Kristen sebagai Katib (sekretaris).

Sekretaris yang tidak disebutkan namanya ini bertugas mencatat pengeluaran Abu Musa selaku Gubernur. Abu Musa membawa Sekretarisnya ini memasuki Madinah, dan mereka menghadap Khalifah Umar. Umar takjub dengan kerapian catatan yang dibuat oleh sekretaris Abu Musa.

Datang pula laporan keuangan dari Syam. Mengingat ketrampilan sang sekretaris, Khalifah memintanya untuk membacakan laporan dari Syam itu di Masjid Nabawi. Abu Musa mengatakan, “Tidak bisa orang ini masuk ke Masjid Nabawi.” Umar bertanya, “Mengapa? Apakah dia sedang junub?” “Bukan, dia Nasrani,” jawab Abu Musa. Umar langsung membentak Abu Musa dan memukul pahanya, dan mengatakan, “Usir dia! (akhrijuhu)”

Kemudian Khalifah Umar membaca QS al-Maidah 51. Kisah di atas dinukil dari Tafsir Ibn Katsir yang meriwayatkan dari Ibn Abi Hatim. Saya cek kitab Tafsir Ibn Abi Hatim dan menemukan kisah yang sama. Kisah tersebut juga dicantumkan dalam sejumlah kitab tafsir lainnya seperti Tafsir al-Darr al-Mansur.

Perbedaan redaksi

Riwayat berbeda dicantumkan dalam Tafsir al-Qurtubi, dimana di bagian akhir dialog ada perbedaan ucapan Umar. Imam al-Qurtubi juga mencantumkan kisah di atas bukan dalam QS al-Maidah:51 tapi dalam QS Ali Imran:118. Ini yang disampaikan Umar versi Tafsir al-Qurtubi: “Jangan bawa mereka mendekati sesuatu yang Allah telah jauhkan, jangan memberi mereka kehormatan ketika Allah telah menghinakan mereka, dan jangan mempercayai mereka ketika Allah telah mengatakan mereka tidak bisa dipercaya”.

Dalam riwayat lain yang dicantumkan oleh Kitab Tafsir al-Razi, sebagaimana juga disebutkan dalam Kitab Tafsir Bahrul Muhit, al-Lubab fi Ulumil Kitab, Tafsir al-Naisaburi ada lanjutan dialognya: Abu Musa berkata: “Tidak akan sempurna urusan di Bashrah kecuali dibantu orang ini”. Khalifah Umar yang sedang murka, menjawab singkat: “Mati saja lah orang Kristen itu. Wassalam”.

Para ulama menafsirkan maksud perkataan Umar terakhir itu dengan makna: “Pecat dia sekarang karena kalau besok-besok dia meninggal dan kamu sudah bergantung pada dia, kamu akan repot, maka anggap saja sekarang dia sudah meninggal, dan cari bantuan orang lain untuk mengurusi urusan itu.”

Dalam Kitab Tafsir al-Razi, Tafsir al-Wasith Sayyid Tantawi, dan juga kitab Syurut al-Nasara li Ibn Zabr ada redaksi lain dalam dialog di atas. Abu Musa berkilah di depan Khalifah: “lahu dinuhu wa liya kitabatuhu” (baginya urusan agamanya, dan bagiku adalah urusan ketrampilan dia). Abu Musa seolah mengingatkan Khalifah dengan ungkapan yang mirip dalam al-Qur’an: lakum dinukum waliya din. Tetapi Khalifah tetap menolaknya.

Kenapa Khalifah Umar Marah?

Dialog di atas terjadi di Madinah. Di sini kunci kita memahami kemarahan Khalifah Umar. Abu Musa membawa sekretarisnya yang Kristen ke wilayah Madinah yang khusus untuk umat Islam saja. Bahkan Umar baru tahu dia seorang Nasrani itu setelah mau diajak bicara di Masjid. Barulah Abu Musa mengaku kepada Khalifah latar belakang sekretarisnya ini. Ini sebabnya kalimat yang diucapkan oleh Khalifah Umar saat memarahi Abu Musa: “usir dia atau keluarkan dia” Ini maksudnya usir dia dari Madinah. Disusul dengan ungkapan Khalifah Umar, “Jangan bawa mereka mendekati sesuatu yang telah Allah jauhkan dari mereka”.

Maksudnya adalah keharaman wilayah Madinah yang steril dari non Muslim karena Allah sudah jauhkan mereka, eh kok malah dibawa masuk oleh Abu Musa. Jadi ini bukan semata-mata persoalan Abu Musa mengangkat orang Kristen, tapi ini pada kesucian wilayah Madinah. Pemahaman ini dikonfirmasi oleh Ibn Katsir dalam kitabnya yang lain yang berjudul Musnad al-Faruq.

Sebab kemarahan kedua yang bisa kita ambil dari kisah di atas adalah ketergantungan Abu Musa terhadap orang Kristen pada posisi yang sangat strategis yang keuangan pemerintahan dimana di dalamnya termasuk catatan zakat, jizyah dalam baitul mal. Indikasi ketergantunga itu tampak dengan Abu Musa tidak bisa menjelaskan sendiri catatan pengeluaran yang telah dibuat sekretarisnya, malah sampai membawa sekretaris yabng Kristen itu mendampingi dia memberi laporan kepada Khalifah.

Bagi sang Khalifah, rahasia negara menjadi beresiko ketika posisi strategis semacam itu dipercayakan kepada non-Muslim di masa saat Khalifah Umar sedang melakukan ekspansi dakwah ke wilayah non-Muslim, seperti pembebasan Iraq dan Mesir. Inilah pula konteksnya ketika Khalifah Umar mengutip QS al-Maidah:51 dimana Allah melarang mengambil Yahudi dan Nasrani sebagai awliya (sekutu/kawan akrab), yang menurut Ibn Katsir ketika menjelaskan QS al-Nisa:144:

“Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai ‘awliya’ mereka, dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Yang dimaksud dengan istilah “awliya” dalam ayat ini ialah berteman akrab dengan mereka, setia, tulus dan merahasiakan kecintaan serta membuka rahasia orang-orang mukmin kepada mereka.”

Maka jelas ‘illat larangan yang dipahami Umar bin Khattab ada dalam kasus Abu Musa ini, yaitu ketergantungan Abu Musa kepada anak buahnya, posisi strategis dalam hal catatan keluar-masuk zakat-jizyah, serta potensi bocornya rahasia negara yang tengah melakukan ekspansi dakwah.

Yang menarik adalah Sa’id Hawa dalam al-Asas fi al-Tafsir mengatakan: “apakah anda bisa pahami tentang larangan memberikan kafir dzimmi posisi untuk mengerjakan urusan umat Islam?” Beliau menjawab sendiri: “Masalah ini tergantung konteksnya, karena perbedaan posisi jabatan, kondisi, dan lokasi serta zaman.”

Sahihkah riwayatnya?

Tidak satupun 9 kitab Hadis Utama yang meriwayatkan kisah di atas. Berarti kisah di atas itu bukan masuk kategori Hadits, tapi Atsar Sahabat. Kisahnya berhenti di Umar, bukan di Rasulullah SAW. Kisah ini justru dimuat di Kitab Tafsir. Pelacakan saya hanya satu kitab Hadits (di luar kutubut tis’ah) yang memuatnya yaitu Sunan al-Kubra lil Baihaqi.

Imam Baihaqi memasukkan dua riwayat yang berbeda mengenai kisah di atas (9/343 dan 10/216). Atsar ini dinyatakan sanadnya hasan melalui jalur Simak bin Harb oleh kitab Silsilah al-Atsar al-Shahihah. Sementara Al-albani mensahihkan Atsar ini dalam jalur yang lain, sebagaimana disebutkan dalam kitab beliau Irwa al-Ghalil.

Dalam Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah kisah mengenai jawaban Umar, “Mati sajalah si Kristen itu” disampaikan kepada Khalid bin Walid. Bukan berkenaan dengan Abu Musa. Namun ulama lain mengatakan itu Abu Musa. Dalam kitab Zahratut Tafsir, Abu Zahrah mengatakan kata-kata Umar “mati sajalah si Krsten itu” dilakukan dalam surat menyurat dengan Abu Musa, bukan dialog langsung. Demikianlah kesimpangsiuran kisah di atas, dengan berbagai redaksi dan riwayat yang berbeda. Tapi sekali lagi ini bukan Hadits Nabi. Ini merupakan Atsar sahabat.

Qaulus Shahabi atau keputusan Khalifah?

Umar bin Khattab adalah sahabat Nabi. Abu Musa al-Asy’ari juga sahabat Nabi. Keduanya berbeda pandangan dalam hal ini. Pendapat keduanya dalam usul al-fiqh disebut sebagai qaulus shahabi. Singkatnya ini adalah ijtihad para sahabat Nabi yang tidak disandarkan kepada Nabi. Artinya murni pemahaman mereka sepeninggal Nabi SAW.

Para ulama usul al-fiqh ada yang menerima kehujjahan qaulus shahabi sebagai salah satu sumber hukum Islam, seperti pendapatnya Imam Malik, namun Imam Syafi’i (qaul jadid) dan para pengikut beliau seperti Imam al-Ghazali serta Imam al-Amidi menolak kehujjahan qaulus shahabi. Itu artinya, pendapat Khalifah Umar dan Abu Musa sama-sama sah dan bisa dipertimbangkan bagi mazhab Maliki, namun tidak mengapa pendapat keduanya ditolak menurut mazhab Syafi’i.

Itu kalau kita memahami dari sudut usul al-fiqh. Kalau kita melihatnya dari sudut Fiqh Siyasah, maka keputusan Umar lebih kuat karena ia memutuskan dalam posisi sebagai khalifah, dan suka atau tidak suka, sebagai Gubernur bawahan Khalifah, Abu Musa harus ikut keputusan Umar. Namun keputusan Khalifah itu tidak otomatis dianggap ijma’ (kesepakatan) karena jelas ada perbedaan pendapat dikalangan sahabat.

Dengan kata lain, sikap Umar itu adalah kebijaksanaan beliau saat itu, yang seperti dicatat oleh sejarah, berbeda dengan kebijakan para Khalifah lainnya yang mengangkat non-Muslim sebagai pejabat seperti yang dilakukan oleh Khalifah Mu’awiyah, Khalifah al-Mu’tadhid, Khalifah al-Mu’tamid, dan Khalifah al-Muqtadir.

Seperti yang disinggung pengarang al-Asas fi tafsir al-Qur’an di atas, kondisi dan konteksnya berbeda dengan apa yang dihadapi oleh Khalifah Umar. Boleh jadi begitu juga apa yang dihadapi oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini. Wa Allahu a’lam bi al-Shawab. Baca juga: Benarkah Muslim Harus Keras Terhadap Kafir???

Itulah 9 tafsir surat Al-Maidah ayat 51 yang sedang hangat diperbincangkan saat ini. 8 tafsir dari ulama salaf dan satu yang terakhir merupakan penjelasan dari cendikiawan muda, Prof. Nadirsyah Hosen yang merupakan Rais Syuriyah PCINU Australia – New Zealand & Dosen Senior di Monash Law School – Australia. Memahami konteks turunnya ayat, atau yang lazim disebut dengan asbabul nuzul sangat penting untuk memahami keutuhan dari makna ayat. Apalagi sebagian ayat Al-Quran diturunkan dalam konteks tertentu & spesifik, sekalipun kandungannya memiliki sifat global, universal & tidak hanya diperuntukkan untuk masa itu saja. (Sumber: www.nu.or.id)

loading...

Related Post "9 TAFSIR SURAT AL-MAIDAH AYAT 51 MENURUT PARA MUFASSIR"

BUMI TIDAK DATAR MENURUT SAINS & AL-QURAN
Ternyata bumi tidak datar menurut sains &
BENARKAH MUSLIM HARUS KERAS TERHADAP KAFIR?
Benarkah Muslim Harus Keras Terhadap kafir? Surat
GUS DUR, PANJENENGAN IKU ANEH & KERE
Gus Dur, Panjenengan Iku Aneh & Kere -
KISAH RASULULLAH DILUDAHI SEORANG WANITA TUA
Kisah Rasulullah Diludahi Seorang Wanita Tua -