PENGERTIAN BID’AH MENURUT AL-QURAN DAN HADITS

Pengertian Bid’ah Menurut
Al-Quran Dan Hadits

– Sesuatu yang sudah selesai sejak zaman dulu ulai diungkit lagi di masa-masa
sekarang. Ketenangan ummat Islam dan persatuan kaum muslimin yang selalu
menghargai perbedaan terusik dengan ‘sekelompok’ orang yang menuduh golongan
yang tidak sefaham dengannya dengan sebutan kafir, syirik dan mencap bid’ah.
Padahal tidak sedikit dari mereka yang faham dengan arti bid’ah itu
sendiri. Hanya bermodalkan buku dan beberapa terjemahan literatur dengan
mudahnya membuat lidah mereka mencap golongan lain keluar dari Islam,na’udzubillah
min dzalik. Mari kita fahami pengertian bid’ah menurut Al-Quran dan hadits Nabi
saw berikut ini..
Arti bid'ah dalam Islam
Arti bid’ah dalam Islam

Para ulama membuat definisi
bid’ah
dari aspek etimologinya. Imam Muhammad Abu Bakar Abdus menuturkan, bid’ah
adalah
mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Menurut Abu Husain
Ahmad bin Faris (w. 393 H ), adalah memulai dan membuat suatu perkara tanpa ada
contoh.

Dan menurut Abu Abd
Rahman al-Khlmil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H ) “bid’ah adalah mengadakan
suatu perkara yang sebelumnya tidak di buat, tidak disebut dan tidak dikenal”
Begitulah para ulama
mendefinisikan bid’ah secara bahasa. Dari definisi-definisi itu kita
dapat menarik kesimpulan bahwa bid’ah secara umum dalam arti bahasa adalah
suatu yang tak pernah ada sebelumnya.
Istilah bid’ah dengan
artian seperti ini juga digunakan dalam al-Qur’an sebagaimana firmannya: 

“Allah
Pencipta langit dan bumi” (QS Al-Baqarah [02]:117)

Maksud ayat ini adalah
Allah menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, Allahlah yang
menjadikan langit dan bumi pertama kali.
Dalam ayat lain juga
disebutkan:

“Katakanlah: “Aku
bukanlah rasul pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang
akan diperbuat terhadapku dan tidak  pula
terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan
aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan” (QS
Al-Ahqaaf [46]: 09)

Nabi Muhammad memang
bukan nabi yang pertama, sebelum beliau banyak nabi-nabi yang juga di utus oleh
Allah. Dengan artian beliau bukanlah manusia pertama yang menjadi utusan Allah.
Apabila ditilik dari
sisi terminologi agama, maka banyak sekali ulama yang mendefinisikannya. Salah
satunya adalah al-Imam Izzuddin bin Abd Salam dalam kitabnyya, Qawa’id al-Ahkam
wa maslaha wa al-Anam, Juz 2 hlm, 131-134 mendefinisikan bid’ah sebagai
berikut:

أَاْلبِدْعَةُ فِعْلُ مَالَمْ يُعْهَدْ فِيْ عَصْرِ رَسُوْلِ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ“Bid’ah adalah amaliah ( keagamaan ) yang tak dikenal pada zaman Nabi
saw”

Dari definisi bid’ah ini
bisa disimpulkan bahwa tak ada kata bid’ah dalam urusan duniawi sebagaimana
Hadis Nabi riwayat Imam Muslim dari Imam Malik bahwa: 

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيًاكُمْ“Kalian lebih lebih tahu tentang urusan duni kalian”

Hadis ini secara
eksplisit memberikan klarifikasi pada kita bahwa pekerjaan yang berkaitan
dengan dunia menjadi hak setiap individu. Setiap orang mempunyai kebebasan
dalam melakukan suatu yang ia inginkan selagi tidak terjadi dikotomi dengan
hukum syariat.
Semua Bid’ah Sesat ?
Semua bid’ah sesat. Itu
pandangan kelompok Wahabi. Bagi kalangan awam, maka sudah barang tentu statemen
ini gampang untuk diterima karena memang mereka masih belum bisa membedakan
antara dalil-dalil agama yang benar dan yang salah.

أَلَا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدِثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ شَرَّالْأُمُوْرَ مُحْدثاتَهَا
وكُلُّ محدثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Berhati-hatilah kalian,
jangan sampai membuat hal-hal baru. Karena perkara yang paling jelek adalah
membuat bid’ah, dan setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah
itu sesat ” (HR. Ibn Najah)

Hadis inilah yang sering
dibuat senjata ampuh oleh golongan Wahabi dalam membid’ahkan semua amalan yang
tak ada di zaman Nabi dan menganggapnya sesat.
Secara lahir Hadis di
atas menggunakan kata “كل” yang berarti “semua” dalam membid’ahkan suatu
yang baru.  Tapi yang dikehendaki dari
lafal “كل”  ini bukanlah arti aslinya, bahkan yang
dikehendaki adalah makna “sebagian”. Sebab tidak semua kata “كل” itu menunjukkan
arti “semua” seperti firman Allah dalam al-Qur’an: 
وَجَعَلْناَ مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيِّ أَفَلاَ يُؤْ
مِنُوْنَ

“Dan dari air kami
jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
(QS Al-Anbiyaa’ [21]:30)

Dalam ayat ini Allah
menggunakan kata “كل”, yang berarti umum pada segala sesuatu apapun,
tapi dalam ayat yang lain Allah juga berfirman: “Dan dia menciptakan jin dari
nyala api” (QS Ar-Rahman [55]:15)
Dengan demikian sangat
jelas, bahwa lafal “كل”  dalam
ayat sebelumnya bukanlah makna asal dari lafal “كل” itu sendiri,
melainkan bermakna sebagaian.
Jadi yang dimaksud dari
lafal “كل”
dalam Hadis di atas bukanlah makna “semua“. Hal ini telah dijelaskan oleh para
ulama terkemuka, diantaranya adalah Imam Nawawi (W. 676 H ), seorang ulama
pakar Hadis dari Syiria, beliau berkata, perkataan Rasul “وكل بدعة ضلالة” ini
adalah kalimat umum yang ditakhsîsi dan yang dimaksud Hadis ini adalah bid’ah
secara umum.
Jadi sangat jelas bahwa
asumsi keliru ini dari mereka yang mengartikan bahwa yang dimaksud kata “كل” dalam Hadis di atas
adalah makna aslinya merupakan kesalahan yang sangat fatal dan bertentangan
dengan pendapat para ulama terkemuka.
Klasifikasi Atau
Pembagian Bid’ah
Ulama Sunni membagi bid’ah
pada dua bagian
.
Yaitu, bid’ah baik dan bid’ah sesat. Klasifikasi atau pembagian bid’ah
ini tidak bukannya tanpa dasar yang hanya berlandaskan pada pemikiran
spekulatif mereka untuk mengantisipasi statemen kaum Wahabi. Tapi justru
berlandaskan hadis Nabi dan atsar as-Shahabah.
Arti bid'ah dalam Islam 2
Jangan asal nuduh hanya karena beda
Istilah bid’ah
hasanah
sebenarnya
tidak hanya dikenal akhir-akhir ini khususnya setelah munculnya paham yang
menyesatkan semua bid’ah secara umum. Bahkan istilah ini secara implisit telah
ada pada masa kepemerintahan Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab. Pada suatu
malam di bulan Ramadan ia mendatangi salah satu masjid, ternyata setiba disana,
orang-orang melaksanakan salat tarawih dengan sendiri-sendiri dan ada yang
berjamaah. Lantas beliau berkata: “Saya berpendapat,  apabila orang-orang ini dipersatukan pada
satu orang imam, niscaya lebih baik”. Lalu 
beliau pun menyatukan orang-orang pada satu imam yang bernama Ubai bin
Ka’ab. kemudian di suatu malam kami datang lagi ke Masjid itu lalu kami melihat
orang-orang salat berjemaah di belakang imam. Melihat hal itu Sayyidina Umar
berkata,  “Ini adalah bid’ah yang baik
(Lihat dalam shahih Bukhari)
Berdasarkan perkataan
Sayyidina Umar di atas, maka dapat kita ketahui bahwa salat tarawih secara
berjemaah dalam satu Imam adalah perbuatan bid’ah yang ada sejak masa Sayyidina
Umar yang dicetuskan oleh beliau sendiri. Dan biliau adalah al-salah satu
Khulafa ar-Rasyidun yang harus kita ikuti prilakunya sebagaimana sabda Nabi :
“Kalian harus berpegang pada sunahku dan sunah al-Khulafa ar-Rasyidun yang
mendapat hidayah”
Istilah bid’ah dhalâlah
(sesat) sebenaranya secara implisit telah oleh Nabi dalam sabdanya ketika
menjawab pertanyaan Bilal. “Apa yang harus saya ketahui wahai Rasulullah? Tanya
bilal ketika Nabi mengucapkan “Ketahuilah!”. Kemudian Rasulullah menjawab:
“Barang siapa yang menghidupkan sunahku yang sudah dimatikan orang yang setelah
aku tiada,. Maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.  Tidak akan dikurangi sedikitpun dari pahala
mereka itu. Dan barang siapa yang 
membuat bid’ah dhâlalah (sesat) yang tidak diridai Allah dan Rasul-Nya
maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya. Tiada dikurangi
sedikitpun dari dosa-dosa mereka”. (HR At-Tirmidzi)
Dalam Hadis ini Rasul
menjelaskan bid’ah yang tidak di ridhai Allah dan Rasul-Nya masih beiau sifati
dengan kata “dhâlalah” secara implisit lafal ini mengisyaratkan bahwa tidaklah
semua bid’ah itu sesat. Karena kalau memang semua bid’ah adalah sesat dengan
berlandaskan Hadis riwayat Ibn Majah di atas tentu Nabi tidak akan menyifati
lafal bid’ah dengan kata “dhâlalah”. Tapi menyukupkan dengan kata bid’ah saja.
Jadi, sangatlah jelas
bahwa tidak semua sesuatu yang tidak pernah dikerjakan Nabi termasuk bid’ah
sesat. Wallahu a’lam !
*Penulis adalah santri
Sidogiri asal Probolinggo, Berdomisili di L-O4
Referensi:
  • Muhammad Abu Bakar Abd
    Qadir ar-Razi, Mukhtar as-Shihha,  hlm,
    43
  • Abu al-Husain Ahmad bin
    Faris Mu’jamul Maqayis fi Lughat,  hlm
    119
  • Abu Abd Rahman al-Khlmil
    bin Ahmad al-Farahidi al-‘Ain juz 2, hlm 54
  • Izzuddin bin Abd Salam
    Qawaidul ahkam fi mashlmih al-Anam juz, 2 hlm,133-134.
  • Abu zakariya yahya bin
    syaraf an-Nawawi Sharhu Shahih Muslim juz, 15 hlm 11

Itulah pengertian bid’ah menurut Al-Quran dan hadits Nabi saw serta beberapa pembagiannya. Sebuah
penjelasan lengkap dimulai dari yang mendasar, secara etimologis, terminologis
serta penjelasan dari para ulama yang keilmuannya sudah tidak diragukan lagi.

IRT Ini Menghasilkan 38,7jt/bln via Internet 

Dia melakukannya dirumah sambil masak dan momong anak. Simak kisah lengkapnya..

 

>>oke saya mau<<

Tags: AQIDAH

Related Post "PENGERTIAN BID’AH MENURUT AL-QURAN DAN HADITS"

BUMI TIDAK DATAR MENURUT SAINS & AL-QURAN
Ternyata bumi tidak datar menurut sains &
9 TAFSIR SURAT AL-MAIDAH AYAT 51 MENURUT PARA MUFASSIR
9 Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut
BENARKAH MUSLIM HARUS KERAS TERHADAP KAFIR?
Benarkah Muslim Harus Keras Terhadap kafir? Surat
GUS DUR, PANJENENGAN IKU ANEH & KERE
Gus Dur, Panjenengan Iku Aneh & Kere -