AJAIBNYA PERANAN GUS DUR UNTUK INDONESIA

Ajaibnya Peranan Gus
Dur Untuk Indonesia

– Kita tentu sudah tidak asing dengan pribadi yang satu ini. Beliau adalah KH. Abdurrahman Wahid atau yang sering disapa Gus Dur. Sekarang jika nama Beliau
disebut, yang ada hanya kenangan. Orang, terutama sebagian umat Islam memandang
Gus Dur sebagai sosok yang kontroversial, kadang Saya merasa miris saat
ada seorang muslim yang selelu mencaci makinya padahal Beliau telah tiada.
Tulisan ini merupakan salah satu bukti dari seorang saksi hidup tentang
ajaibnya peranan Gus Dur Untuk Indonesia. Kenapa Saya mengatakan ajaib, itu
karena Beliau selalu berpandangan ke depan, bahkan berani mengambil resiko
untuk tidak populer dan bertentangan dengan banyak pemikiran orang demi
keutuhan bangsa dan Negara. Silahkan Anda simak tulisannya sampai selesai dan
baca dengan teliti.
Aku rindu Gus Dur
Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) di Wonoi orang Wonosobo. Saat
itu sedang ramainya era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan
ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di Negeri
ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua PBNU.
Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan
pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan
Magelang.
Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik
terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan
Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo.
“Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai.
“Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras.” kata Gus Dur.
“Kok bisa Gus?”
“Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi
tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga
arah reformasi gak genah. Bahkan Negeri ini di ambang kehancuran, di ambang
perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir
jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi
berjalan, kita sudah kehilangan propinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur.” kata
Gus Dur.
Kiai tersebut sebagaimana biasa, kalau belum mulai bicara. Pak Habibi,
kita semua akan merasa kasihan dengan sikap Gus Dur yang datar dan seperti
capek sekali dan seperti aras-arasen bicara. Tapi kalau sudah mulai, luar biasa
memikat dan ruangan jadi sepi kayak kuburan, tak ada bunyi apapun selain
pangendikan Gus Dur.
Seorang kiai penasaran dengan calon presiden devinitif pengganti Pak
Habibi yang hanya menjabat sementara sampai sidang MPR. Ia bertanya: “Gus,
terus siapa yang paling pas jadi Presiden nanti Gus?”
“Ya saya, hehehe…” kata Gus Dur datar.
Semua orang kaget dan menyangka Gus Dur guyon seperti biasanya yang
memang suka guyon.
“Yang bisa jadi presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau
Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi
presidan walau sebentar hehehe…” kata Gus Dur mantab.
“Siapa yang ngabari dan yang nyuruh Gus?” tanya seorang kiai.
“Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya
pasti dari NU,” kata Gus Dur masih datar seperti guyon.
Orang yang hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin
mengingat kondisi fisik Gus Dur yang demikian. Ditambah lagi masih ada stok
orang yang secara fisik lebih sehat dan berambisi jadi presiden, yaitu Amin
Rais dan Megawati. Tapi tidak ada yang berani mengejar pertanyaan tentang
presiden RI.
Kemudian Gus Dur menyambung: “Indonesia dalam masa menuju kehancuran.
Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yang membahayakan, tapi
yang memback up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur
menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai
untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yang dimotori Australia.”
Sejenak sang Kiai tertegun. Dan sambil membenarkan letak kacamatanya ia
melanjutkan: “Tidak ada orang kita yang sadar bahaya ini. Mereka hanya pada
ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai
atau tidak. Maka saya harus jadi presiden, agar bisa memutus mata rantai
konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu.
RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yang back up, GAM siapa yang
ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa propinsi sudah siap mengajukan
memorandum. Ini sangat berbahaya.”
Kemudiaan ia menarik nafas panjang dan melanjutkan: “Saya mau jadi
presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah
kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api
membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi
kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yang
menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi presiden saya gak akan lama, karena
mereka akan salah memahami langakah saya.”
Seakan mengerti raut wajah bingung para kiai yang menyimak, Gus Dur pun
kembali selorohkan pemikirannya. “Jelasnya begini, tak kasih gambaran,” kata
Gus Dur menegaskan setelah melihat semua hadirin tidak mudeng dan agak bingung
dengan tamsil Gus Dur.
“Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada
dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu
datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi
sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yang mati, juga rumahnya sudah
jadi jelek. Kita jadi pahlawan pemyelamat yang dielu-elukan.”
Kemudian lanjutnya: “Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau
terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh
jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke
tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia
rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalalah dia tangan kanannya yang lega.
Terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.”
Lalu ia sedikit memajukan duduknya, sambil menukas: “Lalu ceritanya kalau
dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung
rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di
sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yang baru tadi ditaruh di
situ dan terbakarlah rumah itu.”
“Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada
sebab-musabab. Kalau sebab di cegah maka musabab tidak akan terjadi. Kalau
seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga
tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yang waskito, yang
tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yang mau menaruh jerigen
bensin, atau menghadang orang yang merokok agar tidak lewat situ, atau gak
buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.”
Sejenak semua jamaah mangguk-mangguk. Kemudian Gus Dur melanjutkan: “Tapi
nanti yang terjadi adalah, orang yang membawa jerigen akan marah ketika kita
cegah dia naruh jerigen bensin di situ: “Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas
dong aku naruh di mana?” Pasti itu yang akan dikatakan orang itu.”
“Lalu misal ia memilih menghadang orang yang mau buang puntung rokok agar
gak usah lewat situ, Kita bilang: “Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan
merokok. Karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu.”
Apa kata dia: “Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah
terbakar? Lagian mana rumah terbakar?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir!
saya mau lewat.”
Kini makin jelas arah pembicaraannya dan semua yang hadir makin khusyuk
menyimak. “Nah, ini peran yang harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah
jelas, Negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya.
Tapi resikonya kita tidak akan popular, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain
NU yang berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: “Biar saja rumah terbakar asal
aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi
pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi presiden.”
“Poro Kiai ingkang kinormatan.” kata Gus Dur kemudian. “Kita yang akan
jadi presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya.
Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok
dan mencegah orang yang kan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada
di banyak negara. Dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti
ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yang singkat dalam masa itu nanti,
kita gak akan ngurusi dalam Negeri.”
“Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di
Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, presiden dan
pimpinan-pimpinan negara yang simpati padanya harus didekati. Butuh waktu
lama,” lanjut Gus Dur.
“Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yang bermarkas di
Belanda, harus ada loby ke negara itu agar tak mendukung RMS. Juga negara lain
yang punya kepentingan di Maluku,” kata Gus Dur kemudian.
“Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yang saya tahu binaan Amerika.
Saya tahu anggota senat yang jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai
gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yang menyerang warga Amerika dan
Australia di sana adalah desain mereka sendiri.”
Kemudian Gus Dur menarik nafas berat, sebelum melanjutkan perkataan
berikutnya. “Ini yang paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain
Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat. Jadi
mohon para kiai dan santri banyak istighatsah nanti agar tugas kita ini bisa
tercapai. Jangan tangisi apapun yang terjadi nanti, karena kita memilih jadi
pencegah yang tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini.”
Sekonyong beliau berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya: “NKRI
bagi NU adalah Harga Mati!”
“Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di
Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh…” tutup Gus Dur.
Aku sayang gus dur
Tanpa memperpanjang dialog, Gus Dur langsung pamit. Kita bubar dengan
benak yang campur-aduk, antara percaya dan tidak percaya dengan visi Gus Dur.
Antara realitas dan idealitas, bahwa Gus Dur dengan sangat tegas di hadapan
banyak kiai bahwa dialah yang akan jadi presiden. Terngiang-ngiang di telinga
kami dengan seribu tanda tanya.
Menghitung peta politik, rasanya gak mungkin. Yang terkuat saat itu
adalah PDIP yang punya calon mencorong Megawati putri presiden pertama RI yang
menemukan momentnya. Kedua, masih ada Partai Golkar yang juga Akbar Tanjung
siap jadi presiden. Di kelompok Islam modern ada Amien Rais yang juga layak
jadi presiden, dan dia dianggap sebagian orang sebagai pelopor Reformasi.
Maka kami hanya berpikir bahwa, rasional gak rasional, percoyo gak
percoyo ya percoyo aja apa yang disampaikan Gus Dur tadi. Juga tentang tamsil
rumah tebakar tadi. Sebagian besar hadirin agak bingung walau mantuk-mantuk
karena gak melihat korelasinya NU dengan jaringan luar negeri.
Sekitar 3 bulan kemudian, Subhanallah… safari ke luar ternyata Gus Dur
benar-benar jadi Presiden. Dan Gus Dur juga benar-benar bersafari ke luar
negeri seakan maniak plesiran. Semua negara yang disebutkan di PCNU Wonosobo
itu benar-benar dikunjungi. Dan reaksi dalam negeri juga persis dugaan Gus Dur
saat itu bahwa Gus Dur dianggap foya-foya, menghamburkan duit negara untuk
plesiran. Yang dalam jangka waktu beberapa bulan sampai 170 kali lawatan. Luar
biasa dengan fisik yang (maaf) begitu, demi untuk sebuah keutuhan NKRI.
Pernah suatu ketika Gus Dur lawatan ke Paris (kalau kami tahu maksudnya
kenapa ke Paris). Dalam negeri, para pengamat politik dan politikus mengatakan
kalau Gus Dur memakai aji mumpung. Mumpung jadi presiden pelesiran menikmati
tempat-tempat indah dunia dengan fasilitas negara.
Apa jawab Gus Dur: “Biar saja, wong namanya wong ora mudeng atau ora
seneng. Bagaimana bisa dibilang plesiran wong di Paris dan di Jakarta sama
saja, gelap gak lihat apa-apa, koq dibilang plesiran. Biar saja, gitu aja koq
repot!”
Masih sangat teringat bahwa pengamat politik yang paling miring
mengomentrai lawatan Gus Dur sampai masa Gus Dur lengser adalah Alfian Andi
Malarangeng, Menpora yang sekarang kena kasus. Tentu warga NU gak akan lupa
sakit hatinya mendengar ulasan dia. Sekarang terimalah balasan dari Tuhan.
Satu-satunya pengamat politik yang fair melihat sikap Gus Dur, ini
sekaligus sebagai apresiasi kami warga NU, adalah Hermawan Sulistyo, atau
sering dipanggil Mas Kiki. terimakasih Mas Kiki.
Kembali ke topik. Ternyata orang yang paling mengenal sepak terjang Gus
Dur adalah justru dari luar Islam sendiri. Kristen, Tionghoa, Hindu, Budha dll.
mereka tahu apa yang akan dilakukan Gus Dur untuk NKRI ini. Negeri ini tetap
utuh minus Timor Timur karena jasa Gus Dur. Beliau tanpa memikirkan kesehatan
diri, tanpa memikirkan popularitas, berkejaran dengan sang waktu untuk mencegah
kebakaran rumah besar Indonesia.
Dengan resiko dimusuhi dalam negeri, dihujat oleh separatis Islam dan
golongan Islam lainnya, Gus Dur tidak perduli apapun demi NKRI tetap utuh.
Diturunkan dari kursi presiden juga gak masalah bagi beliau walau dengan
tuduhan yang dibuat-buat. Silakan dikroscek data ini. Lihat kembali keadaan
beberapa tahun silam era reformasi baru berjalan, beliau sama sekali gak butuh
gelar “Pahlawan”. Karena bagi seluruh warga NU “Beliau adalah Pahlawan yang
sesungguhnya.”
Disadur dan diedit ulang dari tulisan Gus Theler Cuek: (https://www.facebook.com/theler.cuek/posts/743645182347160).
Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 06 April 2014

Semoga tulisan berjudul ajaibnya
peranan Gus Dur Untuk Indonesia ini menggugah hati kaum muslimin. Khususnya
yang selelu membenci Beliau, sudah selayaknya kita selalu bertabayun dan
berbaik sangka dengan sesama muslim, terlebih lagi kepada seorang ulama yang berilmu
jauh diatas kita, agar lebih tawadhu dan terhindar dari sifat sombong yang
sangat dibenci Allah. Wallahu A’lam!

Tags: TAREKAT & TASHAWUF

Related Post "AJAIBNYA PERANAN GUS DUR UNTUK INDONESIA"

BENARKAH MUSLIM HARUS KERAS TERHADAP KAFIR?
Benarkah Muslim Harus Keras Terhadap kafir? Surat
GUS DUR, PANJENENGAN IKU ANEH & KERE
Gus Dur, Panjenengan Iku Aneh & Kere -
KISAH RASULULLAH DILUDAHI SEORANG WANITA TUA
Kisah Rasulullah Diludahi Seorang Wanita Tua -
FOTO-FOTO MENAKJUBKAN INI BUKTI BETAPA KECILNYA KITA
Foto-Foto Menakjubkan Ini Bukti Betapa Kecilnya Kita