FILSAFAT BARAT ERA AUFKLARUNG

Filsafat Barat Era Aufklarung – Pada abad pertengahan terjadi perdebatan sengit antara
akal dan iman atau antara gereja dan kalangan proletar Eropa.
Hal itu terjadi selama kurang lebih 8 abad lamanya. Mereka dipaksa mengikuti
doktrin yang telah dikeluarkan oleh pihak gereja dalam dogma-dogma gerejanya.
Mereka juga dipaksa untuk melupakan akan kebudayaan mereka dulu, yaitu
kebudayaan Romawi dan Yunani. Namun, semakin lama mereka pun semakin merasakan
akan kejanggalaan tentang doktrin yang mereka terima itu. Terasa berada di luar
akal rasional (irasional).
immanuel kant
Hegemoni antara akal dan iman benar-benar tidak
seimbang pada zaman itu. Pada abad itu akal kalah total dan iman menang mutlak.
Abad ini telah mempertontonkan kelambanan kemajuan manusia dalam bidang
pemikiran, padahal manusia itu sudah membuktikan bahwa ia sanggup maju dengan
cepat. Abad ini juga telah dipenuhi lembaran hitam berupa pemusnahan orang-orang
yang berfikir kreatif diluar dogma gereja, karena pemikirannya berlawanan atau
berbeda dengan pikiran tokoh gereja pada saat itu. Abad ini tidak saja lamban,
lebih dari itu, filsafat
mundur pada abad ini jangankan menambah, menjaga warisan sebelumnya pun abad
ini tidak mampu.
Banyak orang yang jengkel melihat dominasi Gereja atas
orang Eropa. Mereka ingin segera mengakhiri dominasi itu. Akan tetapi, mereka
khawatir mengalami nasib yang sama dengan kawan-kawan mereka yang telah dikirim
ke akhirat lewat penyiksaan Gereja. Seperti tokoh Saint Coppernicus yang berbeda pendapat
dengan gereja tentang pusat tata surya. Menurutnya pusat tata surya adalah
matahari (heliosentris). Sedangkan menurut gereja, bumilah sebagai pusat dari
tata surya (geosentris). Sekalipun demikian adanya, ada juga pemberani yang
sanggup melawan arus deras itu. Orang itu salah satunya adalah Rene Descartes
yang terkenal dengan Filsafat Rasionalisme nya.
Melihat keadaan yang begitu parah pada zaman
pertengahan di Eropa, maka beberapa diantaranya melakukan suatu gerakan
pembaharuan untuk lahir kembali dalam artian lahir sebagai manusia yang tebebas
dari kungkungan gereja (dogma) atau dalam bahasa lain sebagai abad pencerahan.
A. Filsafat Era Aufklarung
Abad Pencerahan (Age of Enlightenment dalam
literatur berbahasa Inggris) adalah suatu masa di sekitar abad ke-18 di Eropa
yang diketahui memiliki semangat revisi atas kepercayaan-kepercayaan lama.
Bertolak dari pemikirian ini, masyarakat mulai menyadari pentingnya diskusi-diskusi
dan pemikiran ilmiah.
Aufklarung memberi kedudukan dan kepercayaan luar
biasa kepada akal budi manusia. Tokoh-tokoh yang mempelopori periode ini
menanamkan kepada pengikutnya dan manusia pada waktu itu bahwa akal manusia
harus digunakan untuk menjawab masalah hidup dan kehidupannya.
Immanuel Kant pernah membuat sebuah tulisan yang
berjudul “Apa Itu Pencerahan?” (What is aufklarung?). Menurut Kant, pencerahan
adalah bebasnya manusia dari rasa ketidakmatangan. Sedangkan ketidakmatangan
sendiri adalah ketidakmampuan menggunakan penalaran pribadi dan keinginan untuk
selalu merujuk dan menggunakan pendapat orang lain, atau dengan kata lain
selalu setuju dengan yang dikatakan orang. Manusia menjadi tidak matang bukan
karena dia tidak mau berpikir, tetapi karena dia takut menggunakan pemahamannya
sendiri. Selama masih bergantung kepada pemahaman orang lain, selama itu pula
seseorang tidak akan pernah matang. Dan karenanya, tidak akan bisa tercerahkan
atau maju. Semboyan pencerahan yang sangat terkenal adalah Sapere Aude! yang
berarti “beranilah menggunakan pemahaman Anda sendiri!”[1].
Sebagai latar belakangnya, manusia melihat adanya
kemajuan ilmu pengetahuan  (ilmu pasti, biologi, filsafat dan
sejarah) telah mencapai hasil yang menggembirakan. Disisi lain jalannya
filsafat tersendat-sendat. Untuk itu diperlukan upaya agar filsafat dapat
berkembang sejajar dengan ilmu pengetahuan alam. Isaac Newton ( 1642-1727)
memberikan  dasar-dasar berpikir dengan induksi, yaitu pemikiran yang
bertitik tolak pada gejala-gejala dan mengembalikan kepada dasar-dasar yang
sifatnya umum. Untuk itu dibutuhkan analisis[2].
Dengan demikian zaman pencerahan merupakan tahap baru dalam proses emansipasi
manusia Barat yang sudah dimulai sejak Renaissance dan Reformasi.
pencerahan
Para tokoh era Aufklarung ini juga merancang
program-program  khusus diantaranya adalah berjuang menentang dogma gereja
populer. Senjatanya adalah fakta-fakta ilmu dan metode-metode rasional[3]
B. Masa Pencerahan Di Jerman, Inggris Dan Prancis
1. Pencerahan Di Jerman
Pada
umumnya Pencerahan di Jerman tidak begitu bermusuhan sikapnya terhadap agama
Kristen seperti yang terjadi di Perancis. Memang orang juga berusaha menyerang
dasar-dasar iman kepercayaan yang berdasarkan wahyu, serta menggantinya dengan
agama yang berdasarkan perasaan yang bersifat pantheistic, akan tetapi semuanya
itu berjalan tanpa “perang’ terbuka.
Yang menjadi pusat perhatian di Jerman adalah etika.
Orang bercita-cita untuk mengubah ajaran kesusilaan yang berdasarkan wahyu
menjadi suatu kesusilaan yang berdasarkan kebaikan umum, yang dengan jelas
menampakkan perhatian kepada perasaan. Sejak semula pemikiran filsafat
dipengaruhi oleh gerakan rohani di Inggris dan di Perancis. Hal itu
mengakibatkan bahwa filsafat Jerman tidak berdiri sendiri. Para
perintisnya di antaranya adalah Samuel Pufendorff (1632-1694), Christian
Thomasius (1655-1728). Akan tetapi pemimpin yang sebenarnya di bidang filsafat
adalah Christian Wolff (1679- 1754)[4].
la mengusahakan agar filsafat menjadi suatu ilmu
pengetahuan yang pasti dan berguna, dengan mengusahakan adanya
pengertian-pengertian yang jelas dengan bukti-bukti yang kuat. Penting sekali
baginya adalah susunan sistim filsafat yang bersifat didaktis, gagasan-gagasan
yang jelas dan penguraian yang tegas. Dialah yang menciptakan
pengistilahan-pengistilahan filsafat dalam bahasa Jerman dan menjadikan bahasa
itu menjadi serasi bagi pemikiran ilmiah. Karena pekerjaannya itu filsafat
menarik perhatian umum[5].
Pada dasarnya filsafatnya adalah suatu usaha
mensistimatisir pemikiran Leibniz dan menerapkan pemikiran itu pada segala
bidang ilmu pengetahuan. Dalam bagian-bagian yang kecil memang terdapat
penyimpangan-penyimpangan dari Leibniz. Hingga munculnya Kant yang filsafatnya
merajai universitas-universitas di Jerman.
2. Pencerahan Di Inggris
Di Inggris filsafat Pencerahan dikemukakan oleh
ahli-ahli pikir yang bermacam-macam keyakinannya. Kebanyakan ahli pikir yang satu lepas
daripada yang lain, kecuali tentunya beberapa aliran pokok.
enlightment

Salah satu gejala Pencerahan di Inggris ialah yang
disebut Deisme, suatu aliran dalam filsafat Inggris pada abad ke-18, yang
menggabungkan diri dengan gagasan Eduard Herbert yang dapat disebut pemberi
alas ajaran agama alamiah.
Menurut Herbert, akal mempunyai otonomi mutlak di
bidang agama. Juga agama Kristen ditaklukkan kepada akal. Atas dasar pendapat
ini ia menentang segala kepercayaan yang berdasarkan wahyu. Terhadap segala
skeptisisme di bidang agama ia bermaksud sekuat mungkin meneguhkan kebenaran-kebenaran
dasar alamiah dari agama[6].
Dasar pengetahuan di bidang agama adalah beberapa
pengertian umum yang pasti bagi semua orang dan secara langsung tampak jelas
karena naluri alamiah, yang mendahului segala pengalaman dalam pemikiran akal.
Ukuran kebenaran dan kepastiannya adalah persetujuan umum segala manusia,
karena kesamaan akalnya. Isi pengetahuan itu mengenai soal agama dan
kesusilaan.
Inilah asas-asas pertama yang harus dijabarkan oleh
akal manusia sehingga tersusunlah agama alamiah, yang berisi:
  • bahwa ada Tokoh
    yang Tertinggi;
  • bahwa manusia
    harus berbakti kepada Tokoh yang Tertinggi itu;
  • bahwa bagian
    pokok kebaktian ini adalah kebajikan dan kesalehan;
  • bahwa manusia karena
    tabiatnya benci terhadap dosa dan yakin bahwa tiap pelanggaran kesusilaan harus
    disesali;
  • bahwa kebaikan
    dan keadilan Allah memberikan pahala dan hukuman kepada manusia di dalam hidup
    ini dan di akhirat. Menurut Herbert, di dalam segala agama yang positif
    terdapat kebenaran-kebenaran pokok dari agama alamiah[7].

Pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 pandangan
Herbert ini dikembangkan lebih lanjut, baik yang mengenai unsur-unsurnya yang
negatif maupun unsur-unsurnya yang positif.
3. Pencerahan Di Prancis
Pada abad ke-18 filsafat di Perancis menimba
gagasannya dari Inggris. Para pelopor filsafat di Perancis sendiri (Descartes,
dll) telah dilupakan dan tidak dihargai lagi. Sekarang yang menjadi guru mereka
adalah Locke dan Newton.
Perbedaan antara filsafat Perancis dan Inggris pada
masa tersebut  adalah jika di Inggris para filsuf kurang berusaha
untuk menjadikan hasil pemikiran mereka dikenal oleh umum, akan tetapi di
Perancis keyakinan baru ini sejak semula diberikan dalam bentuk populer.
Akibatnya filsafat di Perancis dapat ditangkap oleh golongan yang lebih luas,
yang tidak begitu terpelajar seperti para filsuf. Hal ini menjadikan keyakinan
baru itu memasuki pandaangan umum[8].
 jj rousseu
Demikianlah di Perancis filsafat lebih erat
dihubungkan dengan hidup politik, sosial dan kebudayaan pada waktu itu. Karena
sifatnya yang populer itu maka filsafat di Perancis pada waktu itu tidak begitu
mendalam. Agama Kristen  diserang secara keras sekali dengan memakai
senjata yang diberikan oleh Deisme[9].
Sama halnya dengan di Inggris demikian juga di
Perancis terdapat bermacam-macam aliran, ada golongan Ensiklopedi, yang
menyusun ilmu pengetahuan dalam bentuk Ensiklopedi, dan ada golongan
materialis, yang meneruskan asas mekanisme menjadi materialisme semata-mata.
C. Tokoh-Tokoh Filsafat Pada Masa Aufklarung Dan
Pemikirannya
1. Immanuel Kant
Orang yang seolah-olah dengan tiba-tiba menyempurnakan
Pencerahan adalah Immanuel Kant (1724-1804). Seorang Filsuf yang pengaruhnya terhadap
filsafat pada dua ratus tahun terakhir ini,baik di Barat maupun di Timur,
hampir secara universal diakui sebagai filsuf terbesar sejak masa Aristoteles.
Ada yang berpendapat bahwa filsafat pada dua ratus tahun terakhir ini bagaikan
catatan kaki terhadap tulisan-tulisannya. Ada juga yang berpendapat sistem filsafatnya
bagi dunia modern ini laksana Aristoteles bagi dunia skolastik[10].
Kant lahir di Konigserg, Prusia Timur, Jerman. Pikiran-pikiran
dan tulisan-tulisannya membawa revolusi yang jauh jangkauannya dalam filsafat
modern.ia hidup di zaman Scepticism. Sebagian besar hidupnya telah ia
pergunakan untuk mempelajari logical process of  thought (proses
penalaran logis), the external world (dunia eksternal) dan reality of
things (realitas segala yang wujud[11].
Kehidupannya dalam dunia filsuf dibagi dalam dua
periode, zaman
pra-kritis dan zaman kritis. Pada zaman pra-kritis ia menganut pendirian
rasionalis yang dilancarkan oleh Wolff dkk. Tetapi karena terpengaruh oleh
David Hume (1711-1776), berangsur-angsur Kant meninggalkan rasionalisme. Ia
sendiri mengatakan bahwa Hume itulah yang membangunkannya dari tidur
dogmatisnya. Pada zaman kritisnya, Kant merubah wajah filsafatnya secara
radikal[12].
Dilingkungan masyarakatnya, Kant sering menjadi subjek
karikatur secara tidak wajar, semisal bahwa rutinitas hariannya amat kaku
sampai-sampai para tetangganya menyetel arloji mereka menurut kedatangan dan
kepergiannya setiap hari,namun cerita semacam ini mungkin justru mencerminkan
integritas kehidupannya yang bersesuaian dengan ide-idenya sendiri jika kita
ingin menilainya secara positif. Ketika meninggal, epitaf di batu nisannya
hanya bertuliskan “Sang Filsuf“ sebuah sebutan yang dianggap tepat, dengan
mempertimbangkan bahwa periode filsafat yang bermula dengan tampilnya Sokrates
menjadi lengkap dalam banyak hal dengan hadirnya Kant[13].
Dengan munculnya Kant dimulailah zaman baru, sebab
filsafatnya mengantarkan suatu gagasan baru yang memberi arah kepada segala
pemikiran filsafat  la sendiri memang merasa, bahwa is meneruskan
Pencerahan.
Karyanya yang terkenal dengan menampakkan
kritisismenya adalah Critique of Pure Reason (kritik atas rasio murni) yang
membicarakan tentang reason dan knowing process yang ditulisnya selama lima
belas tahun.Bukunya yang kedua adalah Critique of Practical Reason atau kritik
atas rasio praktis yang menjelaskan filsafat moralnya dan bukunya yang ketiga
adalah Critique of judgment atau kritik atas daya pertimbangan[14].
Kant yang juga dikenal sebagai raksasa pemikir Barat
mengatakan bahwa Filsafat merupakan ilmu pokok dari segala pengetahuan yang
meliputi empat persolan yaitu apa yang dapat kita ketahui?, apa yang boleh kita
lakukan?, sampai dimanakah pengharapan kita? dan Apakah manusia itu?[15].
2. Voltaire
Diantara tokoh yang menjadi sentral pembicaraan saat
membicarakan Aufklarung adalah Voltaire (1694-1778). Pada tahun 1726 ia
mengungsi ke Inggris. Di situ ia berkenalan dengan teori-teori Locke dan
Newton. Apa yang telah diterimanya dari kedua tokoh ini ialah:
  • Sampai di mana
    jangkauan akal manusia
  • Di mana letak
    batas-batas akal manusia.

Berdasarkan kedua hal itu ia membicarakan soal-soal
agama alamiah dan etika. Maksud tujuannya tidak lain ialah mengusahakan agar
hidup kemasyarakatan zamannya itu sesuai dengan tuntutan akal.
voltaire

Mengenai jiwa dikatakan, bahwa kita tidak mempunyai
gagasan tentang jiwa (pengaruh Locke). Yang kita amati hanyalah gejala-gejala
psikis. Pengetahuan kita tidak sampai kepada adanya suatu substansi jiwa yang
berdiri sendiri. Oleh karena agama dipandang sebagai terbatas kepada beberapa
perintah kesusilaan, maka ia menentang segala dogma dan menentang agama[16].
3. J. J. Rousseau
Di Perancis pada era pencerahan ini juga ada Jean
Jacques Rousseau (1712-1778), yang telah memberikan penutupan yang
sistematis bagi cita-cita pencerahan di Perancis. Sebenarnya ia menentang
Pencerahan, yang menurut dia menyebarkan kesenian dan ilmu pengetahuan yang
umum, tanpa disertai penilaian yang baik, dengan terlalu percaya kepada
pembaharuan umat manusia melalui pengetahuan dan keadaban. Sebenarnya Rousseau
adalah seorang filsuf yang bukan menekankan kepada akal, melainkan kepada
perasaan dan subjektivitas. Akan tetapi di dalam menghambakan diri kepada
perasaan itu akalnya yang tajam dipergunakan. Terkait kebudayaan menurut
Rousseau, kebudayaan bertentangan dengan alam, sebab kebudayaan merusak
manusia. Yang dimaksud ialah kebudayaan yang berlebih-lebihan tanpa
terkendalikan dan yang serba semu, seperti yang tampak di Perancis pada abad
ke-18 itu[17].
Mengenai agama Rousseau berpendapat bahwa agama adalah
urusan pribadi. Agama tidak boleh mengasingkan orang dari hidup bermasyarakat.
Kesalahan agama Kristen ialah bahwa agama ini mematahkan kesatuan masyarakat.
Akan tetapi agama memang diperlukan oleh masyarakat. Akibat keadaan ini ialah
bahwa masyarakat membebankan kebenaran-kebenaran keagamaan, yang pengakuannva
secara lahir perlu bagi hidup kemasyarakatan kepada para anggotanya sebagai
suatu undang-undang, yaitu tentang adanya Allah serta penyelenggaraannya
terhadap dunia, tentang penghukuman di akhirat dan sebagainya. Pengakuan secara
lahiriah terhadap agama memang perlu bagi masyarakat, tetapi pengakuan batiniah
tidak boleh dituntut oleh negara[18].
Pandangan Rousseau mengenai pendidikan berhubungan
erat dengan ajarannya tentang negara dan masyarakat. Menurut dia, pendidikan
bertugas untuk membebaskan anak dari pengaruh kebudayaan dan untuk memberi
kesempatan kepada anak mengembangkan kebaikannya sendiri yang alamiah[19].
Segala sesuatu yang dapat merugikan perkembangan anak yang alamiah harus
dijauhkan dari anak. Di dalam pendidikan tidak boleh ada pengertian “kekuasaan”
yang memberi perintah dan yang harus ditaati. Anak harus diserahkan kepada
dirinya sendiri. Hanya dengan cara demikian ada jaminan bagi pembentukan yang
diinginkan. Juga pendidikan agama yang secara positif tidak boleh diadakan.
Anak harus memilih Sendiri keyakinan apa yang akan diikutinya. Bagi seorang
muslim, paham seperti ini tentu sangat menyesatkan.
D. Aliran-Aliran Filsafat Era Aufklarung
1. Kritisme
Aliran ini dimulai di Inggris, kemudian Prancis dan
selanjutnya menyebar keseluruh Eropa, terutama di Jerman. Di Jerman
pertentangan antara rasionalisme dan empirisme terus berlanjut. Masing-masing
berebut otonomi. Kemudian timbul masalah, siapa sebenarnya yang dikatakan
sumber pengetahuan?, apakah pengetahuan yang benar itu lewat rasio atau
empirik?. Kant mencoba menyelesaikan persoalan diatas. Pada awalnya Kant
mengikuti rasionalisme, tetapi kemudian terpengaruh oleh empirisme (Hume).
Walaupun demikian, Kant tidak begitu mudah menerimanya, karena ia mengetahui
bahwa dalam empirisme terkandung skeptisme. Untuk itu tetap mengakui kebenaran
ilmu dan dengan akal manusia akan dapat mencapai kebenaran empirsme[20].
Filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki
batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Pertentangan
antara rasionalisme dan empirisme dicoba untuk diselesaikan oleh Kant dengan
kritisismenya[21].
Adapun ciri-ciri kritisisme diantaranya
adalah sebagai berikut:
  • Menganggap bahwa objek pengenalan itu
    berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
  • Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio
    manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu; rasio hanyalah mampu
    menjangkau gejalanya atau fenomenya saja[22].

2. Deisme
Deisme adalah suatu aliran yang mengakui adanya yang
menciptakan alam semesta ini. Akan tetapi setelah dunia diciptakan, Allah
menyerahkan dunia kepada nasibnya sendiri. Sebab Ia telah memasukkan
hukum-hukum dunia itu ke dalamnya. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan
hukum-hukumnya. Manusia dapat menunaikan tugasnya dalam berbakti kepada Allah
dengan hidup sesuai dengan hukum-hukum akalnya[23].
Maksud aliran ini adalah menaklukkan wahyu Ilahi beserta
dengan kesaksian-kesaksiannya, yaitu buku-buku Alkitab, kepada kritik akal
serta menjabarkan agama dari pengetahuan yang alamiah, bebas dari segala ajaran
Gereja. Yang dipandang sebagai satu-satunya sumber dan patokan kebenaran adalah
akal.
Tokoh-tokoh yang mewakili aliran ini di antaranya
adalah John Toland (1670-1722), yang menulis Christianity not mysterious
(1696), dan Matteh Tindal (1656-1733), yang menulis Christianity as Old as
Creation (1730)[24].
Deisme adalah kepercayaan bahwa dengan pengetahuan,
akal dan pikiran, seseorang bisa menentukan bahwa Tuhan adalah nyata. Beberapa
deist menanggap bahwa Tuhan tidak mencampuri urusan manusia dan mengubah
hukum-hukum alam semesta. Dengan demikian, deisme menolak kepercayaan terhadap
mukjizat atau segala bentuk kegaiban lainnya. Pandangan tersebut merupakan
pandangan khas tentang Tuhan pada masa Pencerahan, terutama di dalam filsafat
Pencerahan Inggris.Penganut deisme percaya dengan keberadaan Tuhan, tanpa
bantuan Agama, Otoritas Religius, atau Kitab Suci.
Deist biasanya menolak kejadian gaib (kenabian,
mukjizat) dan cenderung menegaskan bahwa Tuhan (atau “Arsitek Yang Maha
Esa”) memiliki rencana untuk semesta yang tidak terubahkan, baik oleh
campur dalam urusan kehidupan manusia atau menangguhkan hukum alam dari
semesta. Apa yang agama terorganisir lihat sebagai wahyu ilahi dan buku-buku
suci, deists melihat sebagai interpretasi yang dibuat oleh manusia lain, bukan
berasal dari Tuhan[25].
Deisme menonjol selama abad ke-17 dan 18 pada Masa
Pencerahan, terutama di Inggris, Perancis dan Amerika, kebanyakan di antara
mereka yang dibesarkan sebagai Kristen yang mendapati bahwa diri mereka
meragukan mukjizat, kebenaran dan keakuratan kitab suci, tetapi percaya pada
Tuhan[26].
Kesimpulan
Periode
aufklarung telah banyak membawa perubahan pola pikir manusia. Manusia mulai
menggunakan akalnya untuk meneliti secara kritis segala yang ada dalam
kehidupannya termasuk dalam kehidupan bernegara dengan segala aspek yang ada di
dalamnya. Masa inilah yang kemudian membuat para tokoh yang kemudian terkenal
sebagai pelopor sebuah aliran untuk mulai menyuarakan pendapatnya. Pendapat ini
dapat berupa celaan dan kritikan tajam terhadap kinerja pemerintah yang
otoriter dan ditator terhadap rakyatnya.
Selain
itu, perjumpaan akal budi dengan pengalaman manusia (empirik) kemudian
menghasilkan science yang maju. Menurut pandangan Aufklarung dengan
penyebarluasan ilmu pengetahuan maka harkat dan martabat manusia akan semakin
meningkat. Bagi mereka science merupakan sumber kebahagiaan pula. Lahirlah
scientisme, yakni sebuah paham yang memandang science sebagai satu hal yang
segalanya dalam mencapai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Menurut
Immanuel Kant, di zaman ini manusia terlepas dari keadaan tidak balik yang
disebabkan oleh kesalahan manusia itu sendiri yang tidak memanfaatkan akalnya.
Voltaire menyebut zaman pencerahan sebagai “zaman akal” dimana manusia merasa
bebas, zaman perwalian pemikiran manusia dianggap sudah berakhir,mereka merdeka
dari segala kuasa dari luar dirinya.  
Para tokoh era Aufklarung ini juga merancang program-program  khusus diantaranya adalah berjuang menentang
dogma gereja dan takhayul populer. Senjatanya adalah fakta-fakta ilmu dan
metode-metode rasional.
Di
Jerman hadir sosok Immanuel Kant yang dalam filsafat kritiknya ia bermaksud
memugar sifat objektivitas dunia ilmu pengetahuan. Agar  maksud itu terlaksana, orang harus
menghindarkan diri dari sifat sepihak rasionalisme dan sifat sepihak
empirisme.  Rasionalisme mengira telah
menemukan kunci bagi pembukaan realitas pada diri subjeknya, lepas dari
pengalaman. Adapun empirisme mengira telah memperoleh pengetahuan dari
pengalaman saja. Kritisisme Kant adalah suatu usaha besar untuk mendamaikan
rasionalisme dengan empirisme. Menurut Kant baik rasionalisme maupun empirisme
dua-duanya berat sebelah. Ia berusaha menjelaskan bahwa pengalaman manusia
merupakan perpaduan antara sintesa unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur
aposteriori.
Di
Inggris muncul paham deisme sebagai salah satu gejala Pencerahan yang juga
disebut pemberi alas ajaran agama alamiah. Munculnya paham deisme ini sebagai
bentuk penggabungan terhadap gagasan Eduard Herbert.
Menurut
Herbert, akal mempunyai otonomi mutlak di bidang agama. Juga agama Kristen
ditaklukkan kepada akal. Atas dasar pendapat ini ia menentang segala kepercayaan
yang berdasarkan wahyu.

[1]  Juhaya S. Praja, Aliran-aliran filsafat dan Etika (Cet II: Jakarta: Prenada Media 2005). hal.113
[2] Saeful, Filsafat Umum, (Online:
http://www.tokoblog.net/2010/07/filsafat-umum-aliran-pemikiran.html)
[3] Jerome R. Ravertz,The Philosophy of Science,diterjemahkan oleh Saut
Pasaribu, (Cet I: Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2004), hal.53
[4] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Cet IX: Yogyakarta: Kanisius 1993), hal. 63
[5] Syekhudin, Filsafat Abad Ke
18 Era Aufklarung,
 (Online:
http://jaringskripsi.wordpress.com/2009/09/22/
filsafat-abad-ke-18-era-aufklarung/)
[6] Syekhudin, ibid.
[7] Harun Hadiwijono, op.cit., hal. 49
[8] Ghulam Afrizal, Tokoh Filsafat
Perancis (Denis Diderot),
 (Online: http://ghulamarifrizal.wordpress.com/
2013/04/27/ tokoh-filsafat-perancis-denis-diderot/)
[9] Ibid., hal. 57
[10] Syekhudin, op. cit.
[11] Juhaya S. Praja, op. cit., hal. 115
[12] Nila Kantra, BIografi Immanuel
Kant,
 (Online:
http://gciput.blogspot.com/2012/07/kant-immanuael.html)
[13] Stephen Palimous, The Tree of Philosophy, diterjemahkan oleh Muhammad
Shodiq, (Cet I:Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2002), hal.85.
[14] Nila Kantra, op. cit.
[15] Juhaya S. Praja, op. cit., hal. 114
[16] Nara Wirabumi, Pendidikan Zaman
Pencerahan,
 (Online: http://narawirabumi.blogspot.com/p/
pendidikan-zaman-pencerahan.html)
[17] Harun Hadiwijono, op. cit., hal. 59
[18] Harun Hadiwijono, ibid., hal. 62
[19] Syekhudin, op.cit.
[20] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Cet V: Jakarta:
RajaGrafindo Persada 2003), hal. 115
[21] Surajiyo, Ilmu Filsafat, (Cet I: Jakarta: Bumi
Aksara 2005), Hal. 66-67
[22] Juhaya S. Praja, op. cit., hal. 114
[23] Harun Hadiwijono, op. cit., hal. 49
[24] Syekhudin, op. cit.
[25] ___________, Deisme, (Online:
http://id.wikipedia.org/wiki/Deisme)
[26] Ibid

IRT Ini Menghasilkan 38,7jt/bln via Internet 

Dia melakukannya dirumah sambil masak dan momong anak. Simak kisah lengkapnya..

 

>>oke saya mau<<

Related Post "FILSAFAT BARAT ERA AUFKLARUNG"

BUMI TIDAK DATAR MENURUT SAINS & AL-QURAN
Ternyata bumi tidak datar menurut sains &
FOTO-FOTO MENAKJUBKAN INI BUKTI BETAPA KECILNYA KITA
Foto-Foto Menakjubkan Ini Bukti Betapa Kecilnya Kita
28 ISTILAH DI INTERNET INI HARUS DIWASPADAI ORANGTUA
28 Istilah Di Internet Ini Harus Diwaspadai
SEJARAH TERBENTUKNYA PULAU JAWA DARI GUNUNG PURBA
Sejarah Terbentuknya Pulau Jawa Dari Gunung Purba