METODE TAREKAT (THARIQAH) UMUM DAN KHUSUS

Metode Tarekat (Thariqah) umum dan khusus – PERLU diketahui bahwa
pengetahuan yang menurut pemiliknya dianggap terpuji dan jelas, hal itu bisa dianggap
gelap bagi ahli hakikat. Ahli hakikat ini adalah mereka yang menyelami Lautan
Dzat dan kedalaman Sifat-sifat. Di sana, mereka tanpa memiliki imajinasi sama
sekali. Dan mereka itulah kalangan Khos yang Luhur. Yaitu mereka yang menyertai
martabat para Nabi dan Rasul, walau pun martabat para Nabi dan Rasul itu lebih mulia.
WIRID
Sebab mereka ini mempunyai
bagian dari martabat itu, karena tidak satu pun, baik Nabi maupun para Rasul,
melainkan mempunyai pewaris dari ummat ini, dan setiap pewaris mempunyai bagian
dari peninggalan warisannya. Nabi Saw, bersabda, “Para Ulama itu adalah pewaris
para Nabi.”
Dan tentunya para pewaris itu
memiliki kedudukan yang diketahui dari yang  mewariskannya, dari segi
pewarisan ilmu pengetahuan dan hikmah. Namun bukan dari segi perwujudan hakikat
dan kondisi anugerah ruhani (al-maqam wal-haal). Sebab maqam para Nabi itu
terlalu luhur untuk diraih oleh selain para Nabi sendiri, Sementara setiap
pewaris mendapatkan sebagian maqam itu menurut warisan yang diterimanya. Karena
Allah Swt, sudah berfirman, “Niscaya benar-benar Kami
utamakan sebagian Nabi atas sebagian yang lainnya”.
Begitu juga Allah memberikan
posisi keutamaan para wali satu sama lainnya berbeda. Para Nabi senantiasa bersama
Pandangan Allah, dan setiap pandangan yang melimpah dari pandangan para Nabi
akan tertuang menurut kadarnya.  Sementara setiap Wali memiliki muatan
yang spesifik, sehingga dunia Wali terbagi menjadi dua:
Satu bagian disebut sebagai
 wali pengganti para Nabi (Abdaalul Ambiya’)
Bagian kedua, adalah wali
pengganti para Rasul (Abdaalur Rusul).
Abdal para Nabi disebut sebagai
kaum Shalihun, sedangkan Abdal para Rasul disebut ash-Shiddiqun. Antara
Shalihun dengan Shiddiqun, posisi keutamaannya sama dengan antara para Nabi dan
Rasul. Maka ada yang meraih dari mereka (para Nabi), dan ada yang meraih dari
mereka (para Rasul) pula.
Hanya saja diantara mereka itu
adala kelompok khusus yang mendapatkan substansi materi ruhaniyah langsung dari
Rasulullah Saw, yang mereka saksikan dengan pandangan yakin yang nyata. Tetapi
jumlah kelompok sedikit, namun dalam jumlah perwujudan hakikatnya cukup banyak.
Setiap Nabi dan Wali selalu
 bermula dari substansi Rasulullah Saw. Karena diantara  para Wali
itu ada yang menyaksikan dengan pandangannya, dan sebagian mereka yang ada yang
tersembunyikan pandangan dan substansi materinya. Mereka malah fana’ dalam
anugerah yang turun padanya dan tidak tersibukkan dengan mencari substansi
materi ruhaniyahnya itu, bahkan, mereka itu tenggelam dalam anugerah ruhani (haal)
sampai tidak lagi melihat selain waktunya belaka.
Diantara mereka ada yang
terlimpahi melalui Nur Ilahi, sehingga mereka dapat memandang melalui cahayaNya
itu, dan mengenal  urusannya secara nyata. Dan yang demikian itu merupakan
karomah bagi mereka, yang tidak bisa diingkari kecuali oleh mereka yang memang
mengingkari karomah para Wali. Kita semua mohon perlindungan dari keingkaran
terhadap sesuatu setelah kita mengenal sesuatu itu. Mereka itu menempuh
Thariqat yang tidak ditempuh oleh yang lainnya.
WIRID
Sebab jalan penempuhan
 (Thariqat) itu ada dua. Thariqat bagi kalangan Khos, dan Thariqat bagi
kalangan publik thariqah (umum).
Dimaksud dengan Thariqat Khos
itu, adalah jalan yang ditempuh oleh kalangan yang Dicintai  Allah
(al-Mahbubin), yang merupakan Abdal para Rasul. Sedangkan Thariqat Umum adalah
Thariqat yang ditempuh oleh para pecinta Allah (al-Muhibbin), yaitu Abdal para
Nabi. Semoga Salam Sejahtera bagi mereka semua.
Thariqat Khos adalah Thariqat
yang sangat khusus yang sulit dicerna akal biasa, dan langka sekali yang mampu
menguraikan substansinya. Bagi Anda cukup dengan Thariqat Umum, yaitu jalan
penempuhan melalui satu tahap ke tahap lainnya yang lebih luhur hingga sampai
pada suatu tahap tertentu, yaitu , “tempat duduk yang benar di sisi Raja Yang
Maha Berkuasa”.
Jejak pertama yang harus dtempuh
oleh seorang pecinta (al-Muhibb) adalah menaiki suatu tahap ke tahap yang lebih
tinggi, yaitu  diawali dengan riyadhoh Nafsu.
Ia tersibukkan oleh sebab akibat
di sana dan bagaimana seseorang mengolah  (riyadhoh) nafsunya
(mengendalikannya) sampai tangga kema’rifatan.
Manakala ia telah mencapai tahap
ma’rifat dan meraih hakikat di sana, ia akan mendapatkan pencerahan cahaya di
tahap kedua, yaitu Qalbu.
Dalam tahap ini ia berada dalam
kesibukan “bersiasat” (aturan) dalam dunia ma’rifatnya qalbu. Manakala tidak
ada lagi yang tersisa tahapannya, ia menaiki tangga ketiga, yaitu Ruh.
Lalu ia bersibuk diri dengan
Siasat Ruh dan kema’rifatannya. Apabila ma’rifatnya sudah sempurna maka sedikit
demi sedikit mengalirlah cahaya-cahaya yaqin, sampai pandangannya lupa dengan
luapan-luapan cahaya itu, sampai yakinnya benar-benar jelas, sehingga ia tidak
lagi mampu berfikir terhadap pencahayaan tiga tahap yang secelumnya itu.
Maka disanalah ia bebas
berhasrat sesuai dengan kehendak Allah . Lalu Allah melimpahkan melalui Nur
Akaly yang asli dalam Nur Yaqin. Lalu ia menyaksikan Maujud tanpa batas dan
pangkal akhir,  jika disandarkan pada si hamba tersebut. Sehingga
lenyaplah seluruh jagad ini  didalamnya.
Kadang-kadang seperti tabung
yang terlihat di udara melalui cahaya matahari, maka, ketika cahaya matahari
itu  membakar, tabung itu tidak lagi tampak bekasnya.
”Matahari” itu ibarat akal
 langsung, yang bisa memperlihatkan obyek, setelah terpenuhi oleh materi
cahaya yaqin. Apabila  seluruh cahaya itu lenyap, maka seluruh jagad itu
sirna pula, dan yang ada hanyalah yang maujud ini. Kadang tampak ada, kadang
sirna, sampai ketika ia menghendaki kesempurnaan, ia dipanggil oleh panggilan
yang lembut, tanpa suara, yang hanya bisa difahami saja. Hanya saja yang bisa
menyaksikan selain Allah, tiada sesuatu yang lain selain Allah. Maka, disitulah
ia bangun dan sadar dari “mabuk”nya. Lalu bermunajat, “Oh Tuhan,
 tolonglah daku…., Duh Gusti, tolonglah aku…sungguh aku telah musnah…”
Dari sana ia tahu dengan
seyakin-yakinnya, bahwa siapapun tidak bisa selamat dari lautan itu melainkan
karena pertolongan Allah Swt. Disaat seperti itu dikatakan padanya, “Maujud ini
adalah Akal, seperti yang disabdakan Rasulullah Saw, bahwa yang pertamakali diciptakan
oleh Allah adalah akal.” Pada hadits lain dijelaskan, “Allah berfirman pada
akal itu, ‘Menghadaplah!’ dan akal itu pun menghadap.”
Hamba ini lantas dianugerahi
rasa hina dan keselamatan melalui Cahaya Maujud itu, sebab batas dan ukurannya
tiada terkira, sehingga ia tak mampu mengenalnya. Dikatakan padanya, “Betapa
jauhnya, batas itu tidak bisa dikenal kecuali bersama Allah.”
Lantas Allah  Yang Maha
Agung nan Luhur memberikan petunjuk melalui Cahaya Asma’-Nya, muncullah bagai
sekelebat kedipan mata, atau seperti yang dikehendaki-Nya (Kami mengangkat
derajat orang yang Kami kehendaki), kemudian Allah melimpahkannya melalui
Cahaya Ruh Rabbany, lalu ia pun mengenal Maujud ini. Hamba tadi naik  ke
medan Ruh Rabbany, tiba-tiba sirna seluruh riasan keindahan yang menyertainya,
lalu secara otomatis ia tersunyikan, tinggalah segala yang ada ini menjadi
Maujud.
Kemudian Allah menghidupkannya
melalui Cahaya Sifat-sifatNya, lalu dengan kehidupan itu Allah menaikkan ke
dalam  pengenalan Maujud Rabbany itu.
Ketika  hamba terurai
 dari dasar-dasar SifatNya, hampir-hampir ia sebut “Dialah Allah”.
Tiba-tiba ia ditemui oleh Pertolongan Azaly, lalu muncul panggilan, “Ingatlah!
Bahwa maujud itu adalah yang tiada boleh disifati oleh siapa pun, tidak boleh
pula dimengerti melalui ibarat apa pun melalui Sifat-sifatNya kecuali hanya
oleh ahlinya, namun melalui cahaya lain untuk mengenalnya.”
Kemudian Allah Swt,
melimpahkannya melalui Cahaya Sirr Ruh (rahasia batin Ruh), tiba-tiba ia sudah
duduk di pintu medan Sirr. Hasratnya mengembang untuk mengenal Maujud itu yang
tidak lain adalah Sirr itu sendiri. Namun, ia telah buta untuk mengenalnya,
lalu seluruh sifat-sifatnya sirna, seakan-akan tak ada sesuatu pun padanya.
Kemudian Allah Swt,  melimpahkan Cahaya DzatNya, dengan limpahan Kehidupan
 Keabadian yang tiada hingga.
Semua yang diketahui memandang
dengan Cahaya Kehidupan ini, lantas seluruh penghuni Maujud ini menjadi Cahaya
yang memancar pada segala yang ada, tidak lagi ada yang bisa disaksikan selain
Dia. Muncullah panggilan dari jarak yang sangat dekat saat itu: “Janganlah
terpedaya dalam menuju Allah, karena yang Dicintai justru yang terhijab dari
Allah
, dengan Allah. Sebab mustahil  Allah dihijabi oleh selain Allah.”
Lalu ia hidup dengan kehidupan
yang dititipkan oleh Allah di dalamnya. Hamba itu  lalu berkata, “Duh,
Gusti….BesertaMu, DariMu, KepadaMu, betapa tak berdayanya daku. Sesungguhnya
aku memohon perlindungan padaMu dariMu, sampai aku tidak melihat lagi selain
DiriMu.”
Itulah jalan yang tanjakan
menuju Hadirat Allah Yang Luhur, yaitu jalan ditempuh oleh para pecinta Allah
(al-Muhibbin), sebagai para Badal Nabi. Sedangkan yang dianugerahkan pada salah
seorang dari mereka setelah itu, tak satu pun orang yang bisa mengukur atau
mendeskripsikannya. Segala Puji hanya bagi Allah, atas segala nikmat-nikmatNya,
dan shalawat serta salam semoga terlimpah pada Kanjeng Nabi Muhammad pengunci
para NabiNya.
Sedangkan Thariqat kalangan
Mahbubin (mereka yang dicintai-Nya) adalah langsung dari Allah, kepada Allah.
Sebab mencapai jalan ini mustahil selain dari Allah Sendiri.  Pijakan
pertamanya, adalah tanpa pijakan itu sendiri, untuk mendapatkan Cahaya DzatNya.
Mereka ini disembunyikan dari hamba-hamba-Nya, karena ia dianugerahi rasa cinta
terhadap ketersembunyian. Segala amal-amal yang shaleh sangat kecil di matanya,
sementara yang terlihat agung adalah Tuhannya bumi dan langit.
WIRID
Ketika dalam keadaan demikian
itu, tiba-tiba mereka mendapati dirinya berpakaian baju ilmu. Lalu mereka
memandang, tetapi yang tampak, mereka itu bukan mereka. Lantas ia tertimpa
suatu kegelapan yang menyembunyikan pandangan mereka, bahkan wahananya menjadi
wahana tiada, tanpa sebab-akibat. Seluruh aturan sebab akibat terhempas, dan
seluruh yang disebut sebagai yang baru sirna tanpa sesuatu yang baru, bahkan
tak ada wujud lagi.
Yang jelas justru tiada lagi,
kecuali hanya Ketiadaan Murni itu sendiri, tanpa sebab dan akibat. Dan segala
yang tanpa sebab langsung, berarti tidak ada obyek yang bisa dikenalnya. Segala
yang yang bisa diketahui telah sirna, dan segala rumus telah musnah, sirna yang
tidak diketahui kenapa dan bagaimana. Yang ada hanyalah “Substansi” yang
ditunjukkan, bahwa Dia tiada bisa disifati dan tiada Sifat itu sendiri, bahkan
tiada  lagi Dzat. Segala Predikat, Asma’ dan Sifat telah sirna, maka tiada
Nama, tiada Sifat dan tiada Dzat. Maka, muncullah “Yang” senantiasa Muncul,
tiada sebab-akibat.  Tetapi Dia menampakkan Rasia BatinNya, bagi DzatNya
di dalam DzatNya, melalui pemunculan yang tiada awalnya. Namun Dia memandang
dari DzatNya, bagi DzatNya, dengan DzatNya di dalam DzatNya.
Para hamba itu hidup melalui
PemunculanNya dengan kehidupan yang tiada sebab-akibat di dalamnya. Lalu
tampillah dengan seluruh Sifat-sifat yang Indah, yang tiada tahu mengapa dan
bagaimana. Jadilah ia yang pertama muncul, tiada kemunculan sebelumnya. Lantas
menemukan segala sesuatu bersama Sifat-sifat-Nya, kemudian muncullah cahayaNya
di dalam cahayaNya.
Pertama-tama yang muncul adalah
SirrNya (rahasia batin), lalu muncullah (melalui Sirr itu) qalbuNya, lantas
muncul AmarNya melalui SirrNya di dalam SirrNya. Lalu muncullah segala dzat
melaui AmarNya di dalam Cahaya al-Qalam melalui Cahaya al-Qalam.
Kemudian muncullah Akalnya
dengan AmarNya dalam AmarNya, dan muncullah (dengan itu) ArasyNya di dalam
Cahaya LauhNya dengan Cahaya Lauh itu sendiri. Lantas muncullah Ruhnya melalui
Akalnya, dan melalui Ruhnya muncullah KursiNya di dalam Cahaya ArasyNya melalui
Cahaya Arasy itu sendiri.
Lalu muncul nafsunya melalui
qalbunya, lalu muncullah melalui nafsunyanya, orbit bagi kebajikan dan
keburukan di dalam Cahaya HijabNya melalui Cahaya Hijab itu sendiri. Lalu
muncul Jisim melalui nafsunya di dalam nafsunya, maka muncullulah melalui Jisim
itu seluruh Jisim Alam Kasar baik di bumi maupun di langit.
Kesimpulannya, setiap alam kasar
berada dalam Cahaya orbit melalui Cahaya orbit. Sehingga pijakan pertamanya
bagi hamba tercinta yang sunyi ini adalah membuang diri pada ketiadaan, yaitu
pembuangan dalam wahana tiada sebab akibat. Yaitu menghadap pada ketiadaan
melalui pengguguran sifat awwaliyah, akhiriyah, dzahiriyah dan bathiniyah.
Sehingga yang terjadi adalah menghadapkan sifat ketiadaan pada ketiadaan itu
sendiri.
Arti sifat ketiadaan bagi
ketiadaan itu adalah segala hal yang berakhir pada pangkal tiada aksioma sebab
akibat. Yaitu menyaksikan Allah Ta’ala seperti tiada penyaksian yang
berhubungan, tetapi tidak terpisah. Penyaksiaan yang tiada sedikitpun adanya
peluang kealpaan, dimana dalil pembuktiannya tidak ada aksioma sebab akibat di
dalamnya maupun baginya, yaitu penyaksian Ketiadaan Murni.
Arti dari tidak adanya
pembuktian sebab akibat yaitu kelaziman tiadanya penyaksiaan terhadap
makhluk-makhluk yang bisa disaksikan, kemudian secara berurutan, dari ketiadaan
murni itu, yaitu Mabuk dalam Lupa yang abadi, bahkan lupa terhadap kehidupan
yang ditunjukkan dalam wacana pada posisi ini.
Ternyata, jalan hamba ini adalah
Jalan Luhur, atau apa yang disebut dengan terlempar ke dalam Lautan Dzat,
lantas ia tiada, lalu dihidupkan dengan kehidupan yang baik, kemudian
dipindahkan —tanpa harus pindah— ke Lautan Sifat, kemudian Lautan Amar Rabbany,
kemudian Lautan Sirri, lalu Lautan al-Qalam yang masih asli, lantas Lautan Ruh,
kemudian Lautan Qalbu, lalu Lautan Nafsu, lantas Lautan Kebajikan , kemudian ia
ditemukan dengan Lautan Sirri, lalu dilempar ke Lautan Qolamiyah, lalu Lautan
Lauhiyah, kemudian Lautan Arsyiyah, lantas Lautan Kursy, kemudian Lautan
Hijabiyah, kemudian Lautan Falakiyah.
Ia dipertemukan dengan Lautan
Sirri yang meliputi, kemudian dilempar ke Lautan Mulkiyah, lalu ke Lautan
Abalisah (keiblisan), kemudian Lautan Jinsiyah, baru ke Lautan Unsiyah. Disana
ia bertemu dengan Lautan Sirri, lalu dilemparkan ke Lautan Syurgawi, lalu
Lautan Nirani (kenerakaan), kemudian dilempar ke Lautan Ihathah (keseluruhan
yang meliputi) yaitu Lautan Sirri, lalu tenggelamlah di sana dalam
ketenggelaman yang tidak keluar lagi selama-lamanya kecuali atas Izin-Nya. Bila
Allah menghendaki ia diutus sebagai Abdal dari Rasul yang menghidupkan para
hambaNya. Jika Dia berkehendak lain, Dia menutupinya. Dia bertindak sesuai
dengan kehendakNya.
Setiap Lautan dari Lautan-lautan
itu, meliputi berbagai Lautan di sana, dimana jika orang yang Shaleh Badal
Rasul masuk di dalam Lautan paling kecil saja dari Lautan-lautan itu, pasti ia
tenggelam di dalamnya dan tidak akan selamat lagi (mentas).
Semua itu merupakan gambaran
Thariqat Umum dan Khusus. Hanya Allah Sendiri yang Terpuji.

LINK SUMBER

Tags: TAREKAT & TASHAWUF

Related Post "METODE TAREKAT (THARIQAH) UMUM DAN KHUSUS"

BENARKAH MUSLIM HARUS KERAS TERHADAP KAFIR?
Benarkah Muslim Harus Keras Terhadap kafir? Surat
GUS DUR, PANJENENGAN IKU ANEH & KERE
Gus Dur, Panjenengan Iku Aneh & Kere -
KISAH RASULULLAH DILUDAHI SEORANG WANITA TUA
Kisah Rasulullah Diludahi Seorang Wanita Tua -
FOTO-FOTO MENAKJUBKAN INI BUKTI BETAPA KECILNYA KITA
Foto-Foto Menakjubkan Ini Bukti Betapa Kecilnya Kita