SYAIR ARAB : I'TIRAF DAN TAUBAT


إِلهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلا        وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الجَحِيْم
فَهَبْ لِيْ زَلَّتِيْ وَاغْفِرْ ذُنوُبِي     فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْم
وَعَا مِلْنِيْ مُعَامَلَةَ الْكَرِيْم          وَ ثبِّتنِيْ عَلَى النَّهْجِ الْقَوِيْمِ

“Wahai Tuhan aku bukanlah ahli (Surga) Firdaus, dan aku tak sanggup ke (Neraka) Jahim.
Maka leburlah kesalahanku dan ampuni dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau pengampun dosa besar.
Jadikanlah aku orang yang bermal mulia, dan teguhkanlah aku pada jalan yang lurus”.

Makna Sya’ir
Syi’ir ini merupakan bentuk pengakuan akan lemahnya seorang hamba di hadapan Tuhannya. Sebagaimana disebutkan dalam bait pertama, bahwa seorang hamba Allah itu harus mempunyai dua sayap yang seimbang, sayap yang pertama yaitu raja atau pengharapan dan yang kedua adalah khauf  atau rasa takut. Tentu saja sebagai hamba kita selalu berharap bahwa suatu hari nanti di akhirat kita akan dimasukan Allah ke dalam surga-Nya. Dari tujuh level surga yang ada, firdaus merupakan surga tertinggi, tempatnya para Nabi, Rasul dan kekasih Allah. Siapa yang tidak mau masuk firdaus, surga penuh kenikmatan. Siapapun bisa masuk kesana dengan rahmat Allah. Namun kita juga menyadari kelemahan diri dalam melaksanakan perintah-Nya dan manjauhi larangan-Nya, sehingga kita merasa tidak pantas untuk menggapai firdaus. Inilah yang dimaksud dengan bait pertama, keseimbangan antara harapan dan rasa takut. Berharap masuk surga, namun merasa tidak pantas, tapi merasa takut dan tidak sanggup masuk neraka.

Sebagai wujud rasa takut terhadap siksa Allah adalah bertaubat. Karena taubat adalah awal dari upaya untuk meraih maqam tertinggi dihadapan Allah. Seperti kita tahu bahwa dari sembilan maqam tashawuf, taubat adalah yang pertama.

Ada empat syarat taubat yang harus jadi pegangan ketika kita bertaubat agar taubat diterima Allah. Yang pertama adalah merasa menyesal atas dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan, kedua berjanji tidak akan kembali pada dosa dan kesalahan yang lalu, ketiga memohon ampun pada Allah dengan jalan memperbanyak istighfar dengan penuh penghayatan dan pengakuan akan dosa-dosa dan terakhir adalah memperbanyak amal kebaikan, karena sebagaimana kita ketahui dalam hadits Nabi bahwa amal kebaikan itu dapat melebur amal-amal buruk yang telah lalu. Itulah secara singkat makna syair di atas. Semoga kita selalu dikaruniai Allah untuk selalu bertaubat setiap saat dari kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja, kecil atau besar, sadar ataupun tidak. Dan semoga kita selalu dikaruniai Allah untuk selalu beramal baik dan membuka rahmat-Nya sebagai jalan menuju surga. Amiin..!

Khat ‘Arudly Dan Analisis Taf’ilah Syi’ir
جحيمي
0/0//
فعولن
علانارل
0/0/0//
مفاعيلن
ولاأقوا
0/0/0//
مفاعيلن

سأهلا
0/0//
فعولن
تللفردو
0/0/0//
مفاعيلن
إلاهيلس
0/0/0//
مفاعيلن
عظيمي
0/0//
فعولن
فرذذنبل
0/0/0//
مفاعيلن
فإنكغا
0///0//
مفاعلتن
ذن وبي
0/0//
فعولن
لتيوغفر
0/0/0//
مفاعيلن
فهبليزل
0/0/0//
مفاعيلن
قويمي
0/0//
فعولن
علننهجل
0/0/0//
مفاعيلن
وثببتني
0/0/0//
مفاعيلن
كريمي
0/0//
فعولن
معاملتل
0///0//
مفاعلتن
وعاملني
0/0/0//
مفاعيلن

Analisis Bait-Bait Sya’ir
Bait-bait syair di atas dinamakan dengan dengan bait qith’ah. Yaitu bait syair yang terdiri dari tiga sampai enam bait. Jika dilihat dari lengkap atau tidaknya bagian-bagian bait syi’ir di atas, maka dinamai dengan bait tam, yaitu bait yang lengkap semua bagian-bagiannya walupun terkena zihaf dan illat. Bisa juga dinamai dengan bait mursal atau mushmit (bait pertama dan kedua) dan bait muqaffa (bait ketiga).

Jika kita lihat taf’ilah-taf’ilah arudh dalam tabel di atas kita bisa mengetahui bahwa sya’ir di atas termasuk bahar wafir, arudhnya maqthufah dan dlarabnya maqthuf, karena dalam arudhnya tedapat illat naqsh. Demikian juga pada dlarabnya terdapat illat qathf, yaitu berkumpulnya ashb dan hadzf. Asalnya ashb مفاعلتن atau menjadikan sukun huruf kelima yang berharakat pada taf’ilah مفاعلتن yang menjadi مفاعلتن (dengan huruf lam berharakat sukun). Kemudian dirubah menjadi مفاعيلن, karena menggugurkan sabab khafif, maka jadilah مفاعي yang berganti jadi فعولن.

Pada sya’ir di atas juga terdapat hasywu pada setiap bait, kecuali pada taf’ilah pertama dari ‘ajz bait kedua dan pada taf’ilah kedua shadr bait ketiga.

Analisis Qafiyah
Qafiyah pada bait-bait di atas terdiri dari sebagian kata. Yaitu: حيمي, ظيمي, ويمي. Huruf mim yang berharakat dengan majra fathah adalah rawi muthlaq. Huruf mad (ya) disebut washal, yaitu mengisyba’kan harakat rawi, sedangkan huruf ya sukun sebelum huruf mim dinamakan ridf, harakat kasrah sebelum huruf-huru ridf  disebut hadzwu kasrah. Nama qafiyah pada sya’ir di atas disebut mutawatir, yaitu terdapat satu huruf hidup diantara dua huruf mati. 
Wallahu a’lam