NAJIS ANJING, KENAPA HARUS DICUCI 7 KALI??

NAJIS ANJING
Oleh : M. Masyhuri Mochtar
Tulisan ini sebagai jawaban dari pertanyaan Abu Naf’an, Trate,
Sumenep, tentang babi dan anjing. Babi dan anjing adalah dua najis yang
tingkat kenajisannya
terbilang berat (mughalladzah). Mengenai kenajisan pada babi, dalilnya adalah pada surah an-Nahl [16]: 115, yang artinya, “Sesungguhnya
Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan apa
yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa
yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula
melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi
Mahapenyayang.

Adapun kenajisan anjing ditetapkan atas dasar Hadis dari Abu Hurairah artinya, “Apabila
seekor anjing menjilati wadah salah seorang di antara kamu, maka
hendaklah ia menumpahkan (membuang) isinya, lalu mencucinya tujuh kali.
” (HR. Muslim). Juga Hadis yang artinya, “Sucinya
wadah salah seorang di antara kamu jika anjing menjilatinya adalah
dengan mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah/pasir.
” (HR. Muslim).
Pada esensinya, ketetapan najis bagi kedua hewan ini dipandang
dari dimensi yang bersifat ritual, bukan rasional, sehingga semuanya
tidak harus ada alasan logis. Akal masih jauh dari kesempurnaan untuk
menganalisa secara detail tentang najisnya dua hewan tersebut. Memang
agama tidaklah diukur dengan akal, sehingga tidak perlu menelisik dengan
rasio kemungkinan adanya kandungan bersifat kimiawi. Hanya saja, kadang
suatu hukum yang bersifat larangan dari syariat ada hikmah yang
terkandung di dalamnya. Untuk mengungkap hikmah itu, manusia sifatnya
hanya meraba (zhanni) atau memperkirakan, tidak sampai pada tingkatan pasti (qath’i). ketentuan pastinya, hanya pemberlaku syariat itu sendiri yang mengetahuinya.
Dilihat dari segi sintifiknya, ilmu pengetahuan modern telah
mengungkapkan ternyata mengkonsumsi daging babi menyebabkan timbulnya
banyak penyakit. Sebagian dariny disebutkan oleh Dr. Murad Hoffman,
seorang Muslim Jerman, dalam bukunya “Pergolakan Pemikiran: Catatan
Harian Muslim Jerman”, mengatakan, “Memakan daging babi yang terjangkiti
cacing babi tidak hanya berbahaya, tetapi juga menyebabkan meningkatnya
kandungan kolesterol dan memperlambat proses penguraian protein dalam
tubuh, yang mengakibatkan kemungkinan terserang kanker usus, iritasi
kulit, eksim, dan rematik. Bukankah kita sudah ketahui, virus-virus
influenza yang berbahaya hidup dan berkembang pada musim panas yang
karena medium babi?”
Dr. Muhammad Abdul Khair, dalam bukunya Ijtihadat fi Tafsiril-Qur’an al-Karim
menyebutkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh daging babi.
Menurutnya, daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan cacing
trachenea lolipia
. Cacing-cacing ini akan berpindah kepada manusia yang
mengkonsumsi daging babi tersebut. Patut dicatat, hingga saat ini,
generasi babi belum terbebaskan dari cacing-cacing ini. Penyakit lain
yang ditularkan oleh daging babi
banyak sekali, termasuk kolera babi,
sejenis penyakit berbahaya yang disebabkan oleh bakteri prosilia babi,
dan kulit kemerahan yang ganas dan menahun.
Kemudian, bagaimana dengan anjing, yang dalam Islam juga dilarang
untuk didekati? Sebuah kajian yang diterbitkan di dalam sebuah jurnal
sains Barat mengemukakan sebuah kepastian, jika ada seseorang yang
digigit anjing tidak segera ditangani, maka akan membahayakan pada
manusia itu sendiri. Pernyataan itu, muncul ketika mereka mengkaji
tantang bahaya anjing sebagai binatang peliharaan. Tak lain, karena air
liur anjing mengandung bakteri yang membahayakan manusia. Ini muncul
disebabkan anjing tidak berpeluh, sehingga ia berpeluh melalui lelehan
air liur dari mulutnya yang senantiasa ternganga. Jadi, tidak herang
jika Rasulullah SAW menyuruh supaya membunuh anjing gila karena penyakit
berbahaya
yang mungkin merebak dalam masyarakat akibat gigitannya.
Kadang memunculkan sejuta pertanyaan, mengapa harus dengan debu,
tidak yang lainnya? Bukankah dengan debu malah menambah kotor? Sayid
Alwi Ibn Abbas al-Maliki dalam Ibanatul-Ahkam-nya (juz I: 34),
menggolongkan perintah Nabi SAW agar membasuh dengan debu termasuk di
antara mukjizat Rasulullah SAW. Ia menjelaskan bahwa riset ilmuan modern
telah membuktikan bahwa, air liur anjing mengandung mikroba atau bibit
penyakit
sehingga objek yang terkena air liur  anjing jika dicuci dengan
sabun, tidak lebih bersih atau higienis dari kuman atau microba
tersebut. Efektifnya, untuk mematikan kuman tersebut harus dengan cara
ditaburi dengan tanah atau debu yang dicampur dengan air. Dan itu
merupakan hasil riset dan pengujian laboratorium yang di masa Rasulullah
SAW tidak dikenal.
Perlu ditegaskan kembali—dengan tanpa memandang hikmah terkandung
di dalamnya—bahwa najisnya anjing dan babi tolok ukurnya adalah dimensi
ritual menurut pandang syariah, bukan dimensi akal sehingga tidak
diperlukan kajian ilmiah tentang kemungkinan ada kandungan unsur kimiawi
dan fisika. Oleh sebab itu, proses pensucian najis mughallazhah
tetap mengacu pada proses yang bersifat ritual pula, sehingga,
kedudukan tanah di sini tidak bisa diganti dengan sejenis cairan
pembersih semisal sabun, shampo atau lainnya. Begitu juga hitungan
beberapa kali, pencuciannya, bukanlah bersifat fisik dan teknis,
melainkan bersifat formal ritual sebuah agama. Ketentuan hukum najis
keduanya adalah agama, tentu yang berhak menentukan najis dan tidaknya
sesuatu juga agama.
Sumber tulisan: Buletin SIDOGIRI, edisi-71, hal.55-57, Rajab 1433H..
Sumber

IRT Ini Menghasilkan 38,7jt/bln via Internet 

Dia melakukannya dirumah sambil masak dan momong anak. Simak kisah lengkapnya..

 

>>oke saya mau<<

Tags: MASALAH FIQIH

Related Post "NAJIS ANJING, KENAPA HARUS DICUCI 7 KALI??"

BUMI TIDAK DATAR MENURUT SAINS & AL-QURAN
Ternyata bumi tidak datar menurut sains &
9 TAFSIR SURAT AL-MAIDAH AYAT 51 MENURUT PARA MUFASSIR
9 Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut
BENARKAH MUSLIM HARUS KERAS TERHADAP KAFIR?
Benarkah Muslim Harus Keras Terhadap kafir? Surat
GUS DUR, PANJENENGAN IKU ANEH & KERE
Gus Dur, Panjenengan Iku Aneh & Kere -