MENCARI ILMU MENURUT IMAM AL-GHAZALI (2)


Mencari Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali
Pembagian
Ilmu: 
Dalam
buku Ihya Ulumuddin di bab pertama ini, Imam Ghazali menulis
tentang pembagian Ilmu. Menurut Imam Ghazali, Ilmu ada yang menjadi fardhu
‘ain
 untuk dipelajari, ada juga fardhu kifayah. Ilmu
itu terbagi menjadi 2: yaitu Ilmu Mu’amalah dan Ilmu
Mukasyafah
.[16]

Dalam Ilmu
Mu’amalah
 ini ada yang disyari’atkan dan ada juga tidak
disyari’atkan.[17] Yang disyari’atkan dibagi menjadi 2, ilmu yang
terpuji (‘ilmu mahmudah)  dan ilmu yang tercela (‘ilmu madzmumah) [18]. 

Imam
Ghazali menjelaskan bahwa ilmu itu menjadi mahmudah karena
bermanfaat untuk kemaslahatan ummat. Beliau pun membagi menjadi 4 yaitu: Ushul,
Furu’, Muqoddimat, 
dan  Mutammimat.[19]

1. Ushul seperti Kitabullah Al-Qur’anAssunnah,
Ijma’ul ‘ummah
, dan atsarushohabah.
2. Furu’ itu ilmu penunjang yang bisa membantu
untuk memahami  ‘ushul, bukan dari aspek lafaznya tapi dari aspek
maknanya.ini pun dibagi menjadi 2; pertama, penunjang
kebaikan dunia (mashlahat duniawi) seperti, ilmu fiqh, ilmu
‘aqoid
, kedokteran, hisabfalak, politik, ekonomi
dsb; dan kedua, penunjang kebaikan akhirat (mashlahat
ukhrowi)
seperti ‘ilm ahwalul qolb dan ‘ilm akhlaqul mahmudah
wal madzmumah.
3. Muqoddimaat adalah sebagai alat yang membantu
untuk bisa memahami ilmu ushul, Seperti Nahwu, Shorf, Balaghoh
dsb. 
4. Mutammimat adalah yang menyempurnakan seperti di
dalam al-Qur’an. mempelajari  ta’limul qiro’at, makharijul huruf. Kalau
yang berkaitan dengan maknanya seperti ilmu tafsir. Yang berkaitan
dengan hukum-hukumnya seperti mengetahui nasikh dan mansukh‘am dan khosh,
atau nash dan dzohir 

Kalau
didalam atsar dan akhbar ada ilmu
tentang rijal, nama-namanya, nasabnya, nama-nama sahabat,
sifat-sifatnya, atau ilmu‘adalah firruwat, mursal dan musnad, dsb.
Kesemuanya ini adalah ilm yang disyari’atkan dan semuanya mahmudah dan masuk
kedalam fardh kifayah untuk diperlajari.[20] Sedangkan Ilmu
madzmumah 
(tdk terpuji) dicontohkan beliau seperti Sihr,
Talbis, 
Jimat (Tholsimaat) dan ‘Ilm Asy-Sya’idzah.

Ada
3 alasan kenapa ilmu itu disebut ilmu yang tercela (madzmumah); Pertamajika
ilmu itu membawa yang lain kepada kejahatan, Kedua, jika
sebuah ilmu itu menyebabkan banyak kerugian. ketigajika
ilmu tidak bermanfaat.[21]

 Imam Ghazali menyebutkan juga bahwa
Ilmu yang tidak disyari’atkan adalah ilmu yang tidak dimanfaatkan oleh paraanbiya seperti al-hisab,
atau yang berkaitan dengan eksperimen (Tajribah) seperti
kedokterandan pendengaran (Sima’ ) seperti
bahasa.[22]

Dalam
pembagian ilmu diatas, Imam Ghazali menjelaskan bahwa kedua ilmu itu (ilmu
mu’amalah dan ilmu mukasyafah
) tidak akan dapat dipahami jika ada  2
sifat dalam hatinya, yaitu bid’ah dan kibr.[23]

Didalam
ilmu mu’amalah, Ada 3 hal yang dibebankan kepada
seorang hamba yang berakal dan mampu untuk berbuat dengannya, yaitu: I’tiqad,
Fi’il
 dan Turuk; PertamaI’tiqod disini
bermaksud bahwa setiap yang sudah mencapai kedewasaan maka wajib untuk
mempercayai bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai
utusan_Nya(Syahadah)KeduaFi’il ditujukan
kepada setiap orang yang sudah bisa mengetahui akan syari’at Islam maka dia
dituntut untuk mengerjakannya, contoh: sholat, puasa, haji, dsb. KetigaTuruk dimaksudkan
adalah seorang diwajibkan untuk belajar sesuai dengan kondisi keadaannya dan
tidak bertolak dengan keadaan seseorang, seperti orang tuli tidak diwajibkan
belajar dari pelajaran yang berkaitan dengan pendengarannya, atau orang yang
buta tidak diwajibkan belajar dalam hal yang berhubungan dengan
penglihatannya. [24]

Imam
Ghazali menerangkan lagi bahwa ilmu mu’amalah ini sangat
berkaitan erat dengan “keadaan hati” (ahwalil qolbi)artinya dengan Ilmu
manusia itu bisa menjadi terpuji ataupun tercela. Oleh Karena itu, tidak akan
bermanfaat ilmu seseorang bila dia mempunyai sifat-sifat yang tidak terpuji.
Perihal ahwalul
qolb 
didalam ilmu mu’amalah ini, Imam Ghazali menjelaskan 2 hati (hati
yang terpuji dan hati yang tercela) yang dimiliki setiap penuntut ilmu,
yaitu Pertama, yang memiliki hati terpuji
apabila mempunyai kondisi hati yang positif seperti ShabrSyukrKhouf (takut
kepada Allah), Rojak (pengharapan), Ridho (rela), ZuhdTaqwa,
Qona’ah
 (merasa cukup), Sakha (dermawan), Husnuddzon (baik
sangka), Shidq (Jujur), dsb. Ilmu akan banyak manfaatnya bila
seseorang mempunyai sifat hati  yang seperti disebutkan diatas. Kedua, Ilmu
tidak akan bermanfaat bila yang menuntut ilmu tadi memiliki kondisi hati yang
negatif, seperti hasd (iri), hubbutsana’ (suka
pujian), al-kibr (sombong), riyakghodob (marah), al-‘adawah (permusuhan), thomak (rakus),
bakhil, dsb.
 Sama seperti perkataan seorang ‘ulama muslim Tajuddin
Assabaky dalam bukunya “Muqoddimah Thobaqoti asy-Syafi’iyyah al-Kubro” beliau
berkata: ”man lam yashun nafsahu, lam yanfa’hu ‘ilman”  artinya
barangsiapa yang tidak menjaga (kehormatan) dirinya, maka ilmu tidak akan
bermanfaat untuknya. Itulah kenapa, setiap ilmu yang disampaikan harus secara
baik dan dalam kondisi hati yang positif.
Dalam Ilmu
Mukasyafah
, Imam Ghazali menjelaskan bahwa ilmu ini adalah “ghooyah” dari
semua ilmu karena dia yang berkaitan dengan hati, jiwa, ruh dan pensucian jiwa
(Purification of Soul). Dia diibaratkan seperti cahaya yang menerangi hati
seseorang dan yang mensucikan dari sifat-sifat tercela. Dengan membuka cahaya
itu maka perkara yang banyak dapat diselesaikan, didengar, dilihat dan dibaca
dan akhirnya membuka hakekatul ma’rifah dengan dzatullah
subhanahu wata’ala.
 
Inilah ilmunya para Shiddiqun dan Muqorrobun.
Mereka bisa mengetahui hakekat dari makna kenabian, wahyu, syeitan, lafadznya
malaikat dan syeitan, perbuatan syeitan kepada manusia, cara penampakan
malaikat kepada nabi, cara penyampaian wahyu kepada nabi, mengetahui seisi
langit dan bumi, mengetahui hati dan bercampurnya malaikat dan syeitan-syeitan
didalam hati manusia, mengetahui surga dan neraka, adzab kubur, shirath, mizan
dan hisab. Mengetahui sebuah makna pertemuan dengan Allah Azza wajalla dan
melihat kepada wajah_Nya yang maha mulia, dsb. Inilah ilmu yang tidak tertulis
didalam buku dan tidak dibicarakan kecuali ahlinya saja yang bisa merasakannya.
Dilakukan dengan jalan berdzikir dan secara rahasia. Ilmu ini adalah ilmu yang
kurang terlihat.[25] Penjelasan tentang ilmu ini akan dijelaskan
panjang dibab-bab berikutnya.
Referensi:
Makalah perdana Kajian
Kitab Klasik (Triple K) di Universitas Islam Antarbangsa, Malaysia.

16]
 Imam Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin (Bairut: Darul Kutub al-Ilmiyah),
Jilid 1,  Cet k3, hal.22
[17] 
Ibid, hal. 23
[18]
 Ibid, hal. 23
[19] 
Ibid, hal 24
[20]
 Ibid, hal. 24
[21]
 Fazlul Karim, Revival of Religious learning Imam Ghazali’s Ihya
‘ulumuddin. (Karachi: Darul-ishat), vol 1, 1993
[22]
 Ibid, hal 23
[23]
 Ibid, hal. 26
[24] 
Ibid, hal. 22
[25]
   قال رسول
الله
صلى
الله
عليه
وسلم:
إنّ
من
العلم
كهيئة
المكنون
لا
يعلمه
إلا
أهل
المعرفة
بالله
تعالى،
فإذا
نطقوا
به
لم
يجعله
إلا
أهل
الاغترار
بالله
تعالى
علما
منه،
فإن
الله
عز
وجل
لم
يحقره
إذ
آتاه
إياه
(Ihya, Ibid, hal. 27)

[Penulis : Fejri Gasman, fejrigasman.wordpress.com] 

————————————————————–

Perubahan makna Ilmu:

Makna dari penamaan beberapa disiplin ilmu kadang akan
merubah otentitas dari kandungan ilmu itu sendiri. Imam Ghazali mengatakan
bahwa banyak orang merubah makna Fiqh, Ilm, Tauhid, Tadzkir dan Hikmah.
Perubahan makna ini menyebabkan perubahan otentisannya karena kaitan yang
tersirat dari ilmu-ilmu tersebut sangat berhubungan dengan metafisik termasuk
juga akhirat, jiwa, dan keterlibatan Allah didalam kebanyakan pembahasannya.
Jika menyinggung
dalam disiplin Ilmu Fiqh, Ketika itu Sa’ad ibn Ibrahim ditanya: siapakah ulama’
faqih di Madinah? Dia menjawab: dia yang lebih banyak takut kepada Allah.
Rasulullah SAW juga pernah bersabda: Seorang manusia tidak bisa disebut seorang
faqih yang sempurna jika tidak membuat manusia memahami tentang existensi
Allah. Oleh karena itu, ketika banyak yang merubah makna fiqh, Ilm, Tauhid,
Tadzkir dan hikmah dan memisahkannya dari keterlibatan Allah didalamnya maka
sebenarnya itu adalah  ilmu yang tidak terpuji.
Dalam kaitan perubahan ini, Imam Ghazali menyinggung bahwa
ketika khalifah Umar r.a. meninggal, Hazrat Ibn masud pun berseru bahwa: “Nine-tenths
of the science of religion have passed away. The present people used the term
Ilm to mean the science of those who can well debate the cases of jurisprudence
with their adversaries and those who cannot do that are termed weak and outside
the category of the learned men” 
[26] Demikanlah bahwa
memang perubahan makna yang terjadi sungguh banyak merubah esensi ilmu dari
sudut pandangan Islam.
Penutup
Sudah banyak yang mengelempokkan disiplin Ilmu sehingga
menganggap bahwa ilmu yang mereka galuti adalah yang wajib untuk dipelajari.
Imam Ghazali menyebutkan ada lebih dari 20 kelompok yang mengatakan kewajiban
ilmu itu wajib dipelajari, seperti kelompok al-Mutakallimun: mereka
mengatakan bahwah Ilmu Kalam itu wajib dipelajari karena dapat
mengetahui ke-tawhid-an dan Dzat Allah Subhanahu dan
juga sifat-sifat_Nya. Ada juga kelompok al-Fuqoha’: mereka
mengatakan Ilmu Fiqh itu wajib untuk dipelajari karena
dengannya bisa mengetahui ‘Ibadah, halal dan haram dan apa-apa yang diharamkan
dan dihalalkan dari mu’amalah .dsb. Oleh karena itu
pembagian-pembagian diatas menggambarkan bahwa betapa pentingnya ilmu itu
dipelajari.
Sekarang, ilmu yang kita pelajari menjadi sebuah pilihan.
Ketika dihadapkan kepada 2 pilihan maka pilihan itulah yang akan kita ambil.
Jika ingin yang terbaik, maka pilihlah jalan yang sudah dilakukan ulama’
terdahulu karena mereka adalah para waratsatul anbiya’, dan jika
sebaliknya maka pilihlah jalan yang dilalui generasi terbaru. Yang jelas, Imam
Ghazali sudah menjelaskan bahwa tujuan ilmu hanyalah agar dekat dengan Allah
dan mengenal lebih banyak tentang_Nya. Jika sudah mengenal Allah maka rasa
cinta akan tumbuh dan kemudian menjadi lebih dekat kepada_Nya Rabbul
‘arsyil adzim
. Jati diri ini akan ditemukan ketika kita sudah
mengetahui Allah dengan ilmu_Nya yang kita pelajari, seperti sabda
Rasulullah: “Man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa Rabbahu”  Artinya
barangsiapa yang sudah mengetahui [jati] dirinya maka artinya dia sudah
mengenal Tuhannya. Oleh karena itu, kenalilah Allah dengan belajar semua
Ilmu_Nya karena Ilmu itu wajib untuk dipelajari oleh setiap muslim. Dia adalah
tuntutan agar bisa mengenal Allah.  Dan musuh manusia paling besar adalah
kebodohannya sendiri, “Annasu a’daa_un ma jahilu”. Sekian
dan Terimakasih.
“Belajar itu murah tapi Ilmu itu mahal”

 -Referensi:
 *      Kandidat Master Ushuluddin
di Universitan Islam Antar bangsa, Malaysia.
**    Makalah perdana Kajian Kitab Klasik (Triple
K) di Universitas Islam Antarbangsa, Malaysia.
[1]   
Penyampaian Dr. Syamsuddin Arif ketika membentang makalah beliau di Universti
Malaya. 3 April 2010
[2]    Lih. artikel berjudul, Transmigrasi
Ilmu: Dari Dunia Islam ke Eropa” oleh Dr. Syamsuddin Arif, ketika
menjadi pembicara di International Seminar on The Enlightenment of Islamic
Civilization,  13 November 2010 di Universitas Sulatan Agung (UNISSULA)
Semarang,  p.3
[3]  Sebuah buku yang memaparkan pertanyaan-pertanyaan
itu sudah dipresentasikan oleh shobibul manar “Ashayyid Rosyid
Ridho”. Beliau mempresentasikannya karena permintaan dari seorang yang
selalu diberi julukan sebagai amirul bayan,”Syakit irsalan”. Syakit
Irsalan ini seorang ilmuwan besar di wilayah timur ‘arab, yang kemudian menulis
sebuah buku berjudul Limadza ta’akhorul Muslimun wa limadza taqoddama
ghoiruhum, (al-Qohiroh: mathba’ah al-manar), 1930 M.
[4]   
Sebuah renungan dari M. Iqbal yang mengatakan: “One cannot resurrect a ‘dead’
tradition by infusing an alien ‘blood’ into it.” Artinya satu kejadian tidak
dapat menghidupkan sebuah tradisi ‘kematian’ dengan cara menginfus darah satu
alien kedalamnya. Lihat artikel “Islam dan Sains: Renungan dan Rancangan” oleh
Dr. Syamsuddin ‘Arif
[5]    Mumtaz Ali, Critical Thinking
an Islamic Perpective (Kuala Lumpur: Percetakan Adiwarna Utama), 1st
edition: 2008, Hal. 34
[6]  QS.
Azzumar: 9
[7]  Man tafaqqoha fi dinillah ‘azza wajalla,
kafahullahu ta’ala ma ahammahu warazaqohu min haitsu la yahtasib. HR.
Khotib
[8]  Mengambil sabda Rasulullah SAW: Man
salaka thoriqon yathlubu fihi ‘ilman sallakallahu bihi thoriqon ilal jannah.
(HR. Muslim)
[9]  Mengambil sabda Rasulullah SAW: Li
an taghdu fatata’allam baban minal ‘ilm khoirun min an tusholli mi’ata rak’atin(HR.
Ibn Majah)
[10]  . وإن فريقا منهم ليكتمون الحق وهم لايعلمونQS. Al-Baqoroh: 146
[11]  ومن يكتمها فإنه إثم قلبه. QS. Al-Baqoroh:
283
[12]   Dalam penjelasan makna fadhilah ini,
Imam Ghazali mendefinisikannya bahwa dia diambil dari kata fadhl yang 
bermakna Ziyadah. Hubungannya dengan Ilmu adalah
sesungguhnya Ilmu merupakan Ziyadah (kelebihan) jika
disandarkan dari sifat-sifat yang lain seperti halnya kuda betina
mempunyai fadhilah dari pada hewan-hewan yang lain. Ilmu
adalah fadhilah dalam sesama disiplin ilmu dan selainnya juga.
(Lih. Ihya ‘Ulumuddin, vol 1, edisi ke 3 hal. 20)
[13]  Imam Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin (Bairut:
Darul Kutub al-Ilmiyah), Jilid 1,  Cet k3, p. 20
[14]  Ibid,
p. 20
[15]  Ibid,
p. 20
[16]  Ibid,
hal. 22
[17]  Ibid,
hal. 23
[18]  Ibid,
hal. 23
[19]  Ibid, hal
24
[20]  Ibid,
hal. 24
[21]  Fazlul Karim, Revival of Religious
learning Imam Ghazali’s Ihya ‘ulumuddin. (Karachi: Darul-ishat), vol
1, 1993
[22]  Ibid,
hal 23
[23]  Ibid,
hal. 26
[24]  Ibid,
hal. 22
[25]
   قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنّ من العلم كهيئة المكنون لا يعلمه إلا أهل المعرفة بالله تعالى، فإذا نطقوا به لم يجعله إلا أهل الاغترار بالله تعالى علما منه، فإن الله عز وجل لم يحقره إذ آتاه إياه (Ihya, Ibid, hal. 27)
[26]  Fazlul Karim, Revival of Religious
learning Imam Ghazali’s Ihya ‘ulumuddin. hal. 46

[Penulis
: Fejri Gasman, fejrigasman.wordpress.com]

Tags: TAREKAT & TASHAWUF

Related Post "MENCARI ILMU MENURUT IMAM AL-GHAZALI (2)"

BENARKAH MUSLIM HARUS KERAS TERHADAP KAFIR?
Benarkah Muslim Harus Keras Terhadap kafir? Surat
GUS DUR, PANJENENGAN IKU ANEH & KERE
Gus Dur, Panjenengan Iku Aneh & Kere -
KISAH RASULULLAH DILUDAHI SEORANG WANITA TUA
Kisah Rasulullah Diludahi Seorang Wanita Tua -
FOTO-FOTO MENAKJUBKAN INI BUKTI BETAPA KECILNYA KITA
Foto-Foto Menakjubkan Ini Bukti Betapa Kecilnya Kita