Latest News

KEAJAIBAN GUS DUR, KESAKSIAN ORANG TENTANG KHAWARIQ LIL ADAT GUS DUR (PART 4)


Beberapa Pengalaman Van Bruinessen dengan Gus Dur
Peneliti NU asal Belanda Martin van Bruinessen memiliki banyak pengalaman akan beberapa aspek luar biasa dari Gus Dur. Meskipun demikian, ia memaknainya sebagai bagian dari kecerdasan luar biasa yang dimiliki oleh Gus Dur.

“Gus Dur seorang yang sangat rasionalis, tetapi disisi lain, ia juga sangat percaya macam-macam hal yang tidak masuk akal secara bersamaan. Ia wali gaya Jawa, bukan gaya Timur Tengah, yang nyeleh, memiliki  ilmu ladunni, bisa mengetahui yang orang lain tidak tahu,” katanya ketika ditemui NU Online di gedung PBNU, Sabtu (20/5).

Dari beberapa kali diskusi yang dihadiri oleh Gus Dur, ia sering melihat Gus Dur
tertidur, tetapi kemudian ia bangun sebenar dan melontarkan pertanyaan yang pas, yang lebih cerdas dari pertanyaan orang lain yang menyimak dengan tekun.

Suatu kali, ia juga pernah meminta Gus Dur untuk memberi kata pengantar buku yang ditulisnya. Waktu itu Gus Dur sudah buta, dan ia yakin, tidak ada orang yang membacakan buku tersebut untuk Gus Dur sebagai bahan dalam menulis kata pengantar, tetapi ia mampu menulis kata pengantar yang isinya persis seperti yang dimaksud dalam kandungan buku tersebut.

“Penjelasan saya, ia orang yang sangat cerdas, punya daya ingat luar biasa,” paparnya.

Sebagai gambaran atas kecerdasan Gus Dur, ia mengungkapkan, dalam kunjungannya ke berbagai pesantren di Jawa, Gus Dur bisa mengingat nama-nama yang ia datangi sampai hal-hal yang detail dan tidak pernah salah. Ia selalu dengan akrab menanyakan aspek keluarga dari para kiai sehingga hubungannya menjadi sangat intim dan pribadi

Bruinessen berpendapat, Gus Dur merupakan produk budaya masyarakat Jawa yang memang menyukai aspek mistis. Ketika mengalami kebutaan, Gus Dur semakin tertarik dengan alam gaib, yang mana ia merupakan bagian penting dari dunia tersebut.

“Saya bisa mengerti mengapa Gus Dur dianggap sebagai wali,” terangnya. 

Keberadaan Gus Dur juga dianggap sebagai pelindung oleh kelompok minoritas. Mereka melihat Gus Dur sebagai orang yang sudah dianugerahi oleh tuhan kemampuan seperti itu. Ada sesuatu diluar kemanusiaan yang ada pada diri Gus Dur yang tidak dimiliki orang lain

Dalam masyarakat selalu ada kebutuhan yang lebih daripada manusia biasa, yang lebih dekat dengan Allah. Banyak orang berfikir Gus Dur seperti itu.

“Gus Dur bukan tanpa kesalahan dan kelemahan, tetap ia orang baik yang membawa kebaikan dan membawa berkah untuk orang banyak,” paparnya.

Saat menjelang reformasi ia bertemu dengan seorang China yang sangat percaya Gus Dur akan melindungi. Mereka sendiri tidak tahu Gus Dur sendiri adalah manusia yang meminpin ormas Islam terbesar di Indonesia.

Ia juga pernah bertemu seorang pendeta Katolik yang mengatakan, Gus Dur dianugerahi kelebihan yang luar biasa oleh Allah. Agama Katolik juga mengenal konsep kewalian. 

--------------------------
Wali yang Menyembunyikan Diri Jadi Tokoh Abangan

Sastro al Ngatawi, mantan asisten pribadi Gus Dur memiliki banyak pengalaman dalam persentuhannya dengan Gus Dur. Banyak pengalamannya yang luar biasa dan memiliki makna spiritual yang mendalam.

Suatu ketika, ia diajak oleh Gus Dur untuk melakukan ziarah ke makam Eyang Gusti Aji di kaki gunung Lawu. Makam tokoh ini dikenal sebagai tempat untuk bersemedi kelompok abangan. Hampir semua tokoh abangan ziarahnya ke tempat ini.

Jam dua malam, mereka mulai naik menuju ke pemakaman.

Sastro lalu bertanya “Kita ngapain Gus disana nanti”.
Gus Dur: “Ya tahlil, wong bisanya kita tahlil.”
Sastro: “Katanya tokoh ini pentolannya abangan”
Gus Dur: “Yang ngerti Islam atau bukan hanya Gusti Allah”

Selanjutnya tahlil pun digelar, dan dalam berdoa mereka menyebut “Doa untuk ahli kubur yang dimakaman disini, kalau Engkau meridhoi,”

Setelah selesai tahlil, juru kunci meminta Gus Dur untuk masuk dalam gedung tempat penyimpanan pusaka. Disana, ia diminta mengambil pusaka, dan apa yang diambil itu yang nantinya akan jadi pegangan. Gedungnya sendiri pun tidak memakai lampu sehingga gelap gulita dan pemilihan pusaka yang akan diambil akhirnya sangat spekulatif.

Akhirnya Gus Dur pun masuk dan mengambil satu pusaka, dan ternyata yang terambil oleh Gus Dur adalah sebuah buku. Lalu Gus Dur diminta untuk mengambil satu lagi, dan memperoleh kain.

Begitu dibuka di luar ruangan, buku yang terambil tersebut ternyata adalah kitab Al Qur’an. Diambilnya Al Qur’an berarti untuk pegangan hidup.

Sastro: “Kalau selendangnya sendiri apa artinya Gus”
Gus Dur: “Embuh mungkin untuk ngendong bongso (ngak tahu, mungkin untuk merawat bangsa).

Selanjutnya, al Qur’an yang terambil tersebut diminta kembali sedangkan selendangnya boleh dibawa pulang.

“Wah, beliau yang dimakankan disini ternyata wali kutub yang menyembunyikan diri,” kata Gus Dur.


Tulisan tentang Gus Dur ini terdiri dari 32 PART, untuk melihat PART lainnya silahkan lihat pada Related Post di bawah tulisan ini atau bisa di lihat dalam kategori TASHAWUF/TOKOH/KISAH. Semoga bermanfaat..
----------------------
Sumber: nu.or.id