ARTI AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH


SIAPAKAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH ITU?


Istilah Ahlussunah adalah sebuah istilah yg telah diberikan kepada Ummat pengikut As'ariyah wal Maturidiyah dlm i'tiqad yg telah dipesankan oleh Allah dan RasulNya sebagai berikut:

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka-pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah maha luas pemberian-Nya lagi maha mengetahui" (Q.S. al Maa-idah: 54)

Al Hafizh Ibnu 'Asakir dalam Tabyin Kadzib al Muftari dan al Hakim dalam al Mustadrak meriwayatkan bahwasanya ketika ayat tersebut turun, Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam menunjuk kepada

Abu Musa al Asy'ari radliyallahu 'anhu seraya berkata: "Mereka adalah kaumnya orang ini"

Al Qusyairi mengatakan: "Pengikut Abu al Hasan al Asy'ari adalah termasuk kaumnya, karena ketika disandarkan suatu kaum kepada nabi, maka yang dimaksud adalah pengikut", ini juga disebutkan oleh al Qurthubi dalam Tafsirnya (Jilid: 6 halaman 220)

Al Bayhaqi mengatakan: "Ini dikarenakan dalam hadits tersebut terdapat fadlilah yang agung dan derajat yang mulia yang dimiliki Imam Abu al Hasan al Asy'ari radliyallahu 'anhu, di mana beliau termasuk kaum Abu Musa al Asy'ari dan  keturunannya yang diberi ilmu dan kepahaman khusus dibanding yang lainnya dalam membela sunnah, memberantas bid'ah dengan menampakkan hujjah dan membantah syubhat". Disebutkan oleh Ibnu 'Asaakir dalam Tabyin Kadzib al Muftari.

Al Bukhari dalam Shahihnya menyebutkan dalam "Bab Datangnya orang orang Asy'ari dan penduduk Yaman, Abu Musa al Asy'ari berkata dari Nabi shallallahu 'alayhi wasallam: "Mereka adalah bagian dariku dan aku dalah bagian dari mereka"

Kita bersyukur kepada Allah ta'ala atas aqidah sunni yang kita yakini sekarang ini, yang merupakan aqidah Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, aqidah yang para pemeluknya dipuji oleh Rasululah shallallahu 'alayhi wasallam, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al Hakim dengan sanad yang shahih:
"Konstantinopel (Istanbul sekarang) pasti akan dikuasai, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang berhasil manguasainya dan sebaik-sebaik tentara adalah tentara tersebut".

Dan Sang Penakluk adalah menaklukkan adalah Sultan Muhammad al Fatih al Maturidi rahimahullah, beliau berakidah sunni, meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat, mencintai para sufi sejati, dan bertawassul dengan Nabi shallallahu 'alayhi wasallam. Keyakinan inilah yang dianut oleh ratusan juta umat Islam, salaf maupun khalaf, di barat maupun di timur, dalam pengajaran maupun pendidikan, terbukti dengan kenyataan yang bisa disaksikan.

Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:

"Sungguh seorang hamba jika mengucapkan perkataan (yang melecehkan atau menghina Allah atau syari’at-Nya) yang tidak dianggapnya bahaya, (padahal perkataan tersebut) bisa menjerumuskannya ke (dasar) neraka (yang untuk mencapainya dibutuhkan waktu) 70 tahun (dan tidak akan dihuni kecuali oleh orang kafir)" (HR Tirmidzi)


Tajuddin as-Subki (W. 771 H) dalam kitab Thabaqat-nya (Jilid: 1, h: 91) mengatakan:

"Tidak ada perbedaan pendapat antara al Asy'ari dan para pengikutnya bahkan seluruh umat Islam bahwa orang yang mengucapkan kalimat kufur atau melakukan perbuatan kufur maka ia telah kufur kepada Allah yang Maha Agung dan akan kekal di neraka meski hatinya mengetahui (meyakini yang benar)".


Dalam Kitab Jami' al 'Ulum Wa al Hikam karangan Ibnu Rajab (W. 795 H) ketika menjelaskan hadits tsb dikatakan:

"Sedangkan kekufuran, riddah, membunuh jiwa, mengambil harta tanpa hak dan semacamnya, hal-hal seperti ini tidaklah diragukan oleh seorang muslim-pun bahwa mereka tidak bermaksud bahwa orang yang sedang marah (dan melakukan hal-hal tersebut) tidak terkena konsekwensi hukumnya. Demikian juga hal yang dilakukan oleh orang yang sedang marah seperti talak, memerdekakan budak atau bersumpah, orang  tersebut terkena konsekwensi hukum dari semua perbuatannya itu tanpa ada perbedaan pendapat".


Di antara contoh-contoh kekufuran yang disepakati adalah sebagai berikut:

Kufur keyakinan: Tempatnya adalah hati, seperti meyakini bahwa Allah adalah Nur dengan makna sinar atau cahaya, meyakini bahwa Allah adalah roh.
Imam al Asy'ari (W. 324 H) mengatakan:

"Barangsiapa meyakini bahwa Allah adalah Jism; sesuatu yang memiliki bentuk dan ukuran maka dia tidak mengenal tuhannya dan ia masih kafir terhadap-Nya".


Imam al Mutawalli (W. 478 H) yang termasuk Ashhabul Wujuh dalam madzhab Syafi'i mengatakan:
"Barangsiapa meyakini bahwa alam azali (ada tanpa permulaan), atau pencipta; yaitu Allah adalah baharu, atau menafikan sesuatu yang telah tetap bagi Allah sebagaimana disepakati oleh para ulama seperti bahwa Allah maha mengetahui dan maha kuasa, atau menetapkan apa yang dinafikan dari Allah dengan ijma' para ulama seperti warna atau menetapkan sifat berkumpul dan berpisah bagi Allah maka ia telah kafir".

Syekh Abdul Ghani an-Nabulsi (W.1143 H) berkata:
"Barangsiapa meyakini bahwa Allah memenuhi langit dan bumi, atau bahwa Allah adalah jisim yang duduk di atas 'Arsy, atau bahwa Allah menempati sesuatu atau menempati segala sesuatu, atau bahwa Allah menyatu dengan sesuatu atau segala sesuatu, maka orang ini kafir meskipun dia mengira atau menganggap dirinya muslim".

Allah ta'ala berfirman:
"Allah tidak menyerupai sesuatu-pun dari makhluk-Nya dan Ia memiliki pendengaran yang tidak seperti pendengaran makhluk dan penglihatan yang tidak seperti penglihatan makhluk" (Q.S. asy-Syura: 11

Allah ta'ala ada sebelum adanya 'Arsy tanpa 'Arsy dan setelah Menciptakan 'Arsy tetap sebagaimana ada-Nya, tidak berubah dari Keberadaan-Nya, dan Allah tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:

“Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud)

Al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayn al Firaq meriwayatkan bahwa Sayyiduna Ali radliyallahu 'anhu berkata:

"Sesungguhnya Allah menciptakan 'Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya".

Al Imam Abu Hanifah radliyallahu 'anhu dalam kitabnya al Washiyyah mengatakan:

"Seandainya Allah butuh kepada duduk dan bertempat, lalu di manakah Allah sebelum diciptakan 'Arsy ?! maha suci Allah dari duduk dan bertempat dengan kesucian yang agung".

Tahukah anda bahwa kata "istawa'" dalam bahasa Arab memiliki 15 makna sebagaimana dikatakan oleh al Hafizh Abu Bakr ibn al 'Arabi ., di antaranya adalah: istiqrar (menetap dan bersemayam), tamam (sempurna), i'tidal (lurus), isti'la' (berada diatas sesuatu), 'uluww (tinggi), istiilaa' (menguasai), dan lain-lain. Di antara makna-makna tersebut, ada yang layak bagi Allah dan ada yg tidak layak bagi Allah

Tidak ditemukan dalam bahasa selain bahasa Arab kata yang sepadan dengan kata "istawa", lalu mengapa ada yang berani menerjemahkannya dan membatasinya dengan makna "julus" (duduk dan bersemayam ) yang merupakan sifat manusia, binatang, jin dan malaikat?!!

Maha Suci Allah, ini adalah kebohongan besar. Sedangkan jika mereka menerjemahkannya dengan makna yang dipilih oleh sekelompok ulama Ahlussunnah dari kalangan salaf dan khalaf yaitu "al Qahr" (menundukkan dan menguasai) maka akan lebih baik bagi mereka. Para ulama yang menegaskan makna tersebut dari kalangan ahli bahasa, ahli tafsir, ahli hadits dan para ulama madzhab empat, di antaranya adalah

Seorang ahli bahasa dan ahli nahwu Abu Abdurrahman Abdullah ibn Yahya ibn al Mubarak (W. 237 H) dalam kitabnya Gharib al Qur'an dan tafsirnya.

· Seorang ahli bahasa Abu Ishaq Ibrahim ibn as-Sari az-Zajjaj (W. 311 H) dalam kitabnya Ma'ani al Qur'an.

· Al Imam Abu Manshur Muhammad ibn Muhammad al Maturidi as-Samarqandi al Hanafi (W. 333 H) dalam kitabnya Ta'wilat Ahlissunnah.

· Al Hafizh Abu Bakr al Bayhaqi asy-Syafi'i (W. 458 H) dalam kitabnya al
Asma' wa ash-Shifat.

· Al Qadli Syekh Abu al Walid Muhammad ibn Ahmad al Maliki Qadli al Jama'ah di Kordova yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Rusyd al Jadd (W. 520 H) sebagaimana disebutkan dalam kitab al Madkhal karya Ibnu al Haajj al Maliki.

· Al Imam Jamaluddin Abu al Faraj Abdurrahman ibn al Jawzi al Hanbali (W. 597 H) dalam kitabnya Daf'u Syubah at-Tasybih menjelaskan tentang bantahan terhadap kaum Mujassimah.

· Al Mufassir al Qadli Abu Sa'id al Baydlawi (W. 685 H) dalam tafsir Anwar at-Tanzil.

· Syekh Muhammad ibn Mahfuzh at-Termasi al-Indonesi dan Syekh al Mufassir Muhammad Nawawi al Jawi al Bantani

Dalam al 'Aqidah ash- Shalahiyyah yang ditulis oleh al-Imam Muhammad ibn Hibatillah al-Makki (W 599H) ; beliau menamakannya Hadaiq al-Fushul wa Jawahir al Uqul, kemudian menghadiahkan karyanya ini kepada sultan Shalahuddin al-Ayyubi (W 589 H). Tentang risalah aqidah yang terakhir disebutkan, sultan Shalahuddin sangat tertarik dengannya hingga beliau memerintahkan untuk diajarkan sampai kepada anak-anak kecil di madrasah-madrasah, yang akhirnya risalah aqidah tersebut dikenal dengan nama al 'Aqidah ash-Shalahiyyah. Sulthan Shalahuddin adalah seorang ‘alim yang bermadzhab Syafi’i, mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al 'Aqidah as-Sunniyyah. Beliau memerintahkan para muadzdzin untuk mengumandangkan al 'Aqidah as-Sunniyyah di waktu tasbih (sebelum adzan shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah, Madinah, dan Yaman sebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh as-Suyuthi (W 911 H) dalam al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il .

As-Subki dalam Thabaqatnya berkata: "Ketahuilah bahwa Abu al-Hasan al- Asy'ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf, menghidupkan ajaran-ajaran sahabat Rasulullah. Penisbatan nama kepadanya karena beliau konsisten dalam berpegang teguh ajaran salaf, hujjah (argumentasi) yang beliau pakai sebagai landasan kebenaran aqidahnya juga tidak keluar dari apa yang menjadi hujjah para pendahulunya, karenanya para pengikutnya kemudian disebut Asy'ariyyah. Abu al-Hasan al-Asy'ari bukanlah
ulama yang pertama kali berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama'ah, ulama-ulama sebelumya juga banyak berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama'ah. Beliau hanya lebih memperkuat ajaran salaf itu dengan argumen-argumen yang kuat. Bukankah penduduk kota Madinah banyak dinisbatkan kepada Imam Malik, dan pengikutnya disebut al Maliki. Ini bukan berarti Imam Malik membawa ajaran baru yang sama sekali tidak ada pada para ulama sebelumnya, melainkan karena Imam Malik
menjelaskan ajaran-ajaran lama dengan penjelasan yang lebih rinci dan sistematis.. demikian juga yang dilakukan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari

Ibnu 'Abidin al Hanafi mengatakan dalam Hasyiyah Radd al Muhtar 'ala ad-Durr al Mukhtar : "Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah al Asy'ariah dan al Maturidiyyah".

GARIS BESAR AQIDAH ASY'ARIYYAH

Secara garis besar aqidah asy'ari yang juga merupakan aqidah ahlussunnah wal jama'ah adalah meyakini bahwa Allah Ta'ala Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah bukanlah benda yang bisa digambarkan juga bukan benda yang berbentuk dan berukuran. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya (laysa kamitslihi syai'). Allah ada dan tidak ada permulaan atau penghabisan bagi
ada-Nya, Allah Maha Kuasa dan tidak ada yang melemahkan-Nya, serta Ia tidak diliputi arah. Ia ada sebelum menciptakan tempat tanpa tempat, Iapun ada setelah menciptakan tempat tanpa tempat. tidak boleh ditanyakan tentangnya kapan, dimana dan bagaimana ada-Nya. Ia ada tanpa terikat oleh masa dan tempat. Maha suci Allah dari bentuk (batasan), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar dan
anggota badan yang kecil. Ia tidak diliputi satu arah atau enam arah penjuru. Ia tidak seperti makhluk-Nya. Allah maha suci dari duduk, bersentuhan, bersemayam, menyatu dengan makhluk-Nya, berpindah-pindah dan sifat-sifat makhluk lainnya. Ia tidak terjangkau oleh fikiran dan Ia tidak terbayang dalam ingatan, karena apapun yang terbayang dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu. Ia Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat. Ia berbicara dengan kalam-Nya yang azali sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain juga azali, karena Allah berbeda dengan semua makhluk-Nya dalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Barang siapa menyifati Allah dengan sifat makhluknya sungguh ia telah kafir. Allah yang telah menciptakan Makhluk dan perbuatan-perbuatan-Nya, Ia juga yang mengatur rizki dan ajal mereka. Tidak ada yang bisa menolak ketentuan-Nya dan tidak ada yang bisa menghalangi pemberian-Nya. Ia berbuat dalam kerajaan-Nya ini apa yang Ia kehendaki. Ia tidak ditanya perihal perbuatan-Nya melainkan
hamba-Nyalah yang akan diminta pertanggungjawaban atas segala Perbuatan-Nya. Apa yang Ia kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Ia kehendaki tidak akan terjadi. Ia disifati dengan kesempurnaan yang pantas bagi-Nya dan Ia maha suci dari segala bentuk kekurangan. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Ia diutus Allah ke muka bumi ini untuk semua penduduk bumi, jin maupun Manusia. Ia jujur dalam setiap apa yang disampaikannya

Maka Jadilah pengikut al Asy'ari dalam aqidahmu, karena ajarannya adalah sumber yang bersih dari kesesatan dan kekufuran

Kita memohon kepada Allah semoga kita meninggal dunia dengan membawa aqidah Ahlissunah Wal Jamaah yang merupakan aqidah para nabi dan rasul Allah. Amin ya robbal alamieeen


Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah golongan mayoritas umat Muhammad. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam dasar-dasar aqidah. Merekalah yang dimaksud oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam:

Maknanya: "…maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga hendaklah berpegang teguh pada al Jama’ah; yakni berpegang teguh pada aqidah al Jama’ah”. (Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim, dan at-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih)

Setelah tahun 260 H menyebarlah bid’ah Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya. Maka dua Imam yang agung Abu al Hasan al Asy’ari (W 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) -semoga Allah meridlai keduanya- menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al Qur’an dan al hadits) dan ‘aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhah-syubhah (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya)
Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya, sehingga Ahlussunnah Wal Jama’ah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka (Ahlussunnah) akhirnya dikenal dengan nama al Asy’ariyyun (para pengikut al Asy’ari) dan al maturidiyyun (para pengikut al Maturidi).
Jalan yang ditempuh oleh al Asy’ari dan al Maturidi dalam pokok-pokok aqidah adalah sama dan satu.

Al Hafizh Murtadla az-Zabidi (W 1205 H) dalam al Ithaf juz II hlm. 6, mengatakan: “Pasal Kedua: "Jika dikatakan Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah al Asy’ariyyah dan al Maturidiyyah”.

Mereka adalah ratusan juta ummat Islam (golongan mayoritas). Mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, para pengikut madzhab Maliki, para pengikut madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al Hanabilah). Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah memberitahukan bahwa mayoritas ummatnya tidak akan sesat. Alangkah beruntungnya orang yang senantiasa mengikuti mereka.

Maka diwajibkan untuk penuh perhatian dan keseriusan dalam mengetahui aqidah al Firqah an-Najiyah yang merupakan golongan mayoritas, karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia disebabkan ia menjelaskan pokok atau dasar agama. Rasulullah shallalllahu ‘alayhi wasallam ditanya tentang sebaik-baik perbuatan, beliau menjawab: Maknanya: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”. (H.R. al Bukhari)

Sama sekali tidak berpengaruh, ketika golongan Musyabbihah mencela ilmu ini dengan mengatakan ilmu ini adalah ‘ilm al Kalam al Madzmum (ilmu kalam yang dicela oleh salaf). Mereka tidak mengetahui bahwa ‘ilm al Kalam al Madzmum adalah yang dikarang dan ditekuni oleh Mu’tazilah, Musyabbihah dan ahli-ahli bid’ah semacam mereka.

Sedangkan ‘ilm al Kalam al Mamduh (ilmu kalam yang terpuji) yang ditekuni oleh Ahlussunnah, dasar-dasarnya sesungguhnya telah ada di kalangan para sahabat. Pembicaraan dalam ilmu ini dengan membantah ahli bid’ah telah dimulai pada zaman para sahabat.

Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- membantah golongan Khawarij dengan hujjah-hujjahnya. Beliau juga membungkam salah seorang pengikut ad-Dahriyyah (golongan yang mengingkari adanya pencipta alam ini). Dengan hujjahnya pula, beliau mengalahkan empat puluh orang Yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jism (benda).

Beliau juga membantah orang-orang Mu’tazilah. Ibnu Abbas -semoga Allah meridlainya- juga berhasil membantah golongan Khawarij dengan hujjah-hujjahnya. Ibnu Abbas, al Hasan ibn ‘Ali, ‘Abdullah ibn ‘Umar - semoga Allah meridlai mereka semua- juga telah membantah kaum Mu’tazilah. Dari kalangan Tabi’in; al Imam al Hasan al Bishri, al Imam al Hasan ibn Muhammad ibn al Hanafiyyah cucu sayyidina ‘Ali, dan khalifah ‘Umar ibn Abd al 'Aziz -semoga Allah meridlai mereka- juga telah membantah kaum Mu’tazilah. Dan masih banyak lagi ulamaulama salaf lainnya, terutama al Imam asy-Syafi’i -semoga Allah meridlainya-, beliau sangat mumpuni dalam ilmu aqidah, demikian pula al Imam Abu Hanifah, al Imam Malik dan al Imam Ahmad -semoga Allah meridlai mereka- sebagaimana dituturkan oleh al Imam Abu
Manshur al Baghdadi (W 429 H) dalam Ushul ad-Din, al Hafizh Abu al Qasim ibn ‘Asakir (W 571 H) dalam Tabyin Kadzib al Muftari, al Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam Tasynif al Masami’ dan al 'Allaamah al Bayadli (W 1098 H) dalam Isyaraat al Maram dan lainlain.


ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH

Allah ta'ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain- Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, 'Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah.

Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya "al Fiqh al Absath" berkata:

"Allah ta'ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu".

Al Imam Fakhruddin ibn 'Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan : "Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi- Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan "Kapan ada-Nya ?" atau "Bagaimana Dia ?", Dia ada tanpa tempat

Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya "al Asma wa ash- Shifat", hlm. 506, mengatakan: "Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu 'alayhi wa sallam:

Maknanya: "Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah- Mu" (H.R. Muslim dan lainnya).

HADITS JARIYAH

Sedangkan salah satu riwayat hadits Jariyah yang zhahirnya memberi persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak boleh diambil secara zhahirnya, tetapi harus ditakwil dengan makna yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah. Sebagai berikut:

perkataan sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-: "Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat" (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).

Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru.

Syekh Abdul Wahhab asy-Sya'rani (W. 973 H) dalam kitabnya "al Yawaqiit Wa al Jawaahir" menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash: "Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana". Karena Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.

Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- juga mengatakan yang maknanya: "Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana" (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98

IniLah sebagian kecil tentang Nash Keberadaan Allah yg terlepas dari keterikatan tempat ruang dan waktu dan lain sebagaina yang menunjukkan kaeadaan dan sifat sifat Makhluk.........MAHA SUCI ALLAH AKAN SERUPA DENGAN MAKHLUKNYA........MESKIPUN HANYA DNG PERUMPAMAAN